Apa maksud sebenarnya ketika seseorang menyatakan beriman kepada suatu Kitab? Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Quran? Kita semua mengetahui bahwa Al-Quran adalah firman Tuhan yang sempurna karena kita bisa mengetahui alur asal-usulnya, diwahyukan kepada Nabi Muhammad kata demi kata dalam berbagai situasi, sehingga tiap ayat dapat kita pahami konteks pewahyuannya, melalui perantara malaikat jibril, dan benar-benar dijaga serta dilindungi dari kerusakan [distorsi & pengubahan] yang dibuat manusia selama lebih dari 1400 tahun. Bahkan pengkritik Islam dengan segan telah menjamin kemurnian kitab suci Al-Quran tersebut: "Di dunia ini mungkin tidak ada kitab lain yang teksnya tetap murni selama empat belas abad." - Sir William Muir.
Taurat yang diyakini umat Islam bukanlah 'Taurat' orang-orang Yahudi dan Kristen sekarang, tetapi adalah Taurat yang dulu (di jaman Nabi Musa). Meskipun saat ini Taurat bahasa Ibrani dan Taurat bahasa Arab, sama ; tetapi sama-sama telah mengalami pengubahan dan revisi selama berabad-abad oleh para Rabi Yahudi. Kita percaya apapun yang diajarkan Musa, tetapi Mazmur yang saat ini diasosiasikan dengan namanya bukanlah wahyu tersebut. Umat Kristen sendiri tidak bersikeras mengatakan bahwa Daud adalah satu-satunya pembuat Mazmur (yang versi aslinya dijaman Musa disebut oleh kaum Muslim sebagai Kitab Zabur).
Bagaimana dengan Injil? Injil berarti Gospel (ajaran) atau "berita baik" yang diajarkan Yesus selama masa tugasnya yang singkat. Penulis "Gospel" (karena Injil tidak ditulis sendiri oleh Yesus, melainkan oleh pengikut-pengikutnya beberapa abad setelah kematian Yesus) sering menyebutkan Yesus melakukan dan mengajarkan ajaran tersebut (Injil):
1. "Demikianlah Yesus berkeliling... memberitakan Injil... serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan (moral masyarakat)." (Matius 9:35).
2. "... barang siapa kehilangan nyawanya karena aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya." (Markus 8: 35).
3. "...memberitakan Injil..." (Lukas 20:1).
Injil adalah kata yang sering digunakan, tetapi Injil yang bagaimanakah yang diajarkan Yesus? Dari 27 kitab Perjanjian Baru, hanya sedikit yang dapat diterima sebagai perkataan Yesus. Umat Kristen bangga dengan Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, dan Injil Yohanes, tetapi tak ada satu pun Injil Yesus! Karena semua Injil itu ditulis TIDAk pada jaman Yesus, melainkan PADA JAMAN beberapa abad setelah Yesus tiada. Dengan tulus kita meyakini bahwa segala sesuatu yang diajarkan Yesus berasal dari Tuhan. Itulah Injil, berita baik dan petunjuk dari Tuhan untuk bangsa Israil. Dalam seluruh hidupnya Yesus tidak pernah menulis sebuah kata pun, dan juga tidak memerintahkan seorangpun untuk melakukan hal tersebut. Injil yang dipergunakan saat ini adalah hasil pekerjaan tangan orang yang tidak diketahui namanya. Tidak pernah tercatat asal-usul penulisannya.
Maka kembali ke pertanyaan sebelumnya: "Apakah anda menerima bahwa Injil adalah Firman Tuhan?" Pertanyaan ini benar-benar menantang, karena menuntut pembuktian ilmiahnya, yaitu asal-usul bibliotiknya. Pertanyaan tersebut diajukan dengan semangat debat. Kita mempunyai hak dengan mengajukan pertanyaan "Injil yang mana yang sedang anda bicarakan?" Mereka akan balik bertanya dengan tidak suka "Mengapa? hanya ada satu Injil."
Injil Katolik
Dengan memegang "Douay" (Injil versi Katolik Roma) di tangan, Ahmed Deedat bertanya, "Apakah anda menerima Injil ini sebagai firman Tuhan?" Pertanyaan terbaik bagi mereka karena perkumpulan Katholik telah menerbitkan Injil versi mereka dalam bentuk yang singkat dan membingungkan. Versi ini mempunyai bagian ekstra dari sejumlah versi yang beredar dipasaran saat ini. Penanya Kristen bertanya: "Injil apakah ini?" Deedat menjawab: "Kenapa? Saya pikir anda tadi mengatakan bahwa hanya ada satu Injil!"
Deedat mengingatkannya. "Ya" si penanya Kristen dengan ragu-ragu menggumam, "Tapi versi yang mana?" "Kenapa? Apakah ada perbedaan?". Deedat kembali menerangkan, "Tentu saja, dan pendakwah professional tentunya mengetahui hal tersebut. Namun mereka berpura-pura dengan pernyataannya tentang "satu Injil".
Injil Katholik Roma diterbitkan di Rheims pada tahun 1582, dari terjemahan Injil berbahasa latin Jerome dan direproduksi di Douay pada tahun 1609.
Nampaknya versi Katholik Roma (RCV= Roman Catholic Version) tersebut adalah versi tertua yang masih dapat dibeli sampai saat ini. Berlawanan dengan keantikannya, seluruh dunia Kristen Protestan, termasuk cults, menyalahkan RCV karena berisi tujuh kitab tambahan yang dengan merendahkan dianggap "kebenarannya diragukan", yaitu penulisan yang sepenuhnya meragukan. Sekalipun peringatan yang menakutkan terdapat di dalam Apocalypse, yaitu kitab terakhir dalam RCV (dinamakan "wahyu" oleh Protestan), kitab ini "diwahyukan".
" .... Jika seseorang menambahkan (atau mengurangi) sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini." (Injil - Wahyu 22: 18-19).
Tetapi siapakah yang peduli! Mereka tidak sungguh-sungguh percaya! Umat Protestan dengan berani telah menghapuskan keseluruhan dari kitab Tuhan! Yang dibuang itu adalah:
-Kitab Yudit
-Kitab Tobit
-Kitab Barukh
-Kitab Ester, dan sebagainya.
Injil Protestan
Ada beberapa hal yang dibicarakan Sir Winston Churcill berkaitan dengan versi Injil Protestan yang di-authorisasi (AV=Authorized Version = KJV).
"Versi Injil yang telah diautorisasi diterbitkan pada tahun 1611 dengan kehendak dan perintah yang mulia Raja James (King James) yang namanya masih digunakan sampai sekarang."
Para pengikut Katholik Roma, yang meyakini umat Protestan juga memiliki kitab Tuhan yang sama dengan mereka, membantu dan bersekongkol dengan 'penjahat' Protestan, untuk memaksa para pemeluk baru (apakah anda termasuk? sejak tahun berapa Anda/ orangtua anda menganut Kristen?) membeli Injil yang sudah diautorisasi (AV), yang merupakan satu-satunya Injil yang tersedia dalam 1500 bahasa dari sedikit negara-negara maju di dunia. Mayoritas umat Kristen - Katholik dan Protestan- menggunakan Injil AV atau sering disebut dengan KJV.
Penghormatan Yang Tinggi
Sebagaimana yang dikatakan Sir Winston, Injil ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1611 dan kemudian direvisi pada tahun 1881 (RV = Revised Version). Setelah itu direvisi kembali pada tahun 1952 menjadi versi standar yang telah direvisi (RSV = Revised Standard Version), Injil tersebut direvisi lagi pada tahun 1971 (singkatannya masih tetap RSV). Lihatlah opini dunia Kristen tentang Injil yang telah direvisi tersebut (RSV):
1. "Versi terbaik yang telah diterbitkan dalam abad sekarang." (Surat Kabar Church of England).
2. "Terjemahan yang secara keseluruhan terbaru karya para sarjana termasyhur." (Tambahan Literatur Times).
3. "Karakteristik terbaik dari versi yang telah diautorisasi yang dikombinasikan dengan keakuratan terjemahan yang baru." (Life and Work)
4. "Terjemahan yang paling akurat dan dekat dengan aslinya." (The Times).
Penerbitnya sendiri (Collins), dan dalam catatan pada Injil di akhir produksinya, berkata dalam halaman 10. "Injil ini (RSV), adalah produk tiga-puluh-dua-sarjana, dibantu oleh komite penasehat yang mewakili limapuluh golongan yang bekerjasama."
Mengapa semua ini dibanggakan? Apakah agar membuat masyarakat mudah tertipu membeli produk mereka? Semua kesaksian ini untuk meyakinkan pembeli bahwa ia sedang 'menunggang kuda' yang benar, ketika pembeli tampak tak terlalu berminat.
"Paling Laku di Dunia"
Tetapi bagaimana dengan versi Injil yang telah diautorisasi (AV), "Paling Laku di Dunia?" Para perevisi ini, semua sales yang baik, mengatakan beberapa hal yang bagus tentang hal itu. Pada halaman iii Injil RSV pada paragraf enam bagian pendahuluan dinyatakan:
"Versi King James (nama lain AV) diterminologikan dengan alasan yang bagus sebagai 'Monumen Prosa Inggris Yang Paling Mulia'.
Perevisinya pada tahun 1881 mengekspresikan kekaguman terhadap 'kesederhanaannya, martabatnya, kekuatannya, ekspresi kebahagiaannya... irama musiknya, dan kebanggaan atas iramanya'. Tidak seperti kitab lainnya, kitab ini masuk sampai pembuatan karakter individu dan institusi umum dari masyarakat berbahasa Inggris. Kita berhutang dengan hutang yang tak terbayarkan kepadanya."
Dapatkah anda, pembaca yang terhormat, membayangkan atribut yang lebih baik yang diberikan kepada "kitab suci" lebih dari yang ada di atas? Saya (Ahmed Deedat), sebagai manusia, tidak bisa memberikannya. Biarkan pengikut Kristen saat ini meneguhkan diri mereka sendiri terhadap hembusan tidak enak dari para ahli hukum di kalangan agama mereka sendiri; dalam nafas yang sama mereka mengatakan: "Versi King James telah mengalami kerusakan yang sangat."
Dan, "Kerusakan ini begitu banyak dan serius sehingga perlu direvisi (lagee :-D )..." Pernyataan ini langsung dari sumbernya, yaitu sarjana Kristen ortodoks ternama. Para Doktor Teologi sekarang juga perlu memproduksi sebuah ensiklopedi yang menerangkan penyebab kerusakan yang penting dan serius dalam kitab suci mereka dan alasan menghilangkannya.
Download berbagai macam versi Alkitab --> Bibleversions@Facebook
Bible Story
Senin, 19 Agustus 2013
Jumat, 03 Mei 2013
Siapakah Jehovah itu?
Terdapat sebuah fakta bahwa sebelum abad ke 16, kata "Jehovah" tidak pernah terdengar. Kapanpun kemunculan pertama dari kata ini, yang jelas kata ini muncul dalam bentuk bahasa Yahudi pada kitab-kitab suci Yahudi (dibaca dari kanan ke kiri seperti bahasa Arab) Yot, Huh, Wah, Huh; atau Y.H.W.H., empat huruf ini didahului oleh sebuah kata pengganti 'Adonai', untuk memperingatkan pembacanya bahwa kata berikutnya tidak diucapkan. Orang-orang Yahudi sangat hati-hati dalam mengulang-ulang kata ini dalam "Book of God" nya 6823 kali --memasukkan kata "Adonai" atau "Elohim". Mereka sepenuhnya percaya bahwa nama Tuhan yang mengesankan ini tidak pernah dilafalkan. Larangan ini tidak memiliki aturan awal: akan dikenakan hukuman mati bagi orang yang berani mengucapkannya, dan tabu ini lebih berhasil dijalankan dibandingkan pelaksanaan seluruh 'kewajiban' dan 'larangan' yang terdapat dalam perintah 'Ten Commandments'.
Jika Jehovah merupakan nama dari Tuhan Yang Maha Kuasa, dan jika 27 versi Kitab Perjanjian Baru dibuat oleh-Nya, maka ini merupakan sebuah anomali atau penyimpangan dari tatanan yang tertinggi, bahwa Dia (Jehovah) tidak mampu memiliki Nama-Nya sendiri yang tercatat dalam "Firman"-Nya, karena harus ditambahkan oleh umat Kristen dalam Injil Yahudi. Umat Kristen menyatakan bahwa mereka memiliki lebih dari 24.000 dari apa yang disebut sebagai "asal-usul" dari Kitab Sucinya dalam bahasa Yunani, dan tidak ada satupun tulisan yang ditulis oleh "Jehovah" di dalamnya. Yang lebih meragukan, "nama Tuhan" ini telah secara jahat diganti oleh kalimat Yunani kyrios.
Doktrin-doktrin Uncle Sam
Sekitar hampir dua abad yang lalu, secara tiba-tiba lebih dari seratus aliran baru Kekristenan bermunculan di Amerika Serikat. The Seventh Day Adventists, The Christian Scientiests, The Menonites, The Christiandelphins, The Jehovah's Witnesses dan semacamnya. Pendiri The Jehovah's Witnesses, seorang hakim, Rutherford, oleh orang-orang Kristen Ortodoks tidak dianggap sebagai seorang "hakim". Ia merupakan seorang kutu-buku dan seorang penulis yang sangat produktif. Dia mempelajari kata 'Jehovah' dan mendirikan aliran The Jehovah Witnesses. Bacalah "Thirty Years A Watchtower Slave" yang ditulis oleh Schelin. Bukan teologinya yang menarik, tetapi modus operandi-nya. Bacalah, bagaimana sekte yang tak terkontrol ini sangat terkait dengan penaklukan Jerman sebelum Hitler. Bacalah, bagaimana kedatangan kedua kali mereka di Jerman Barat. Pikirkan, mengapa mereka melakukan usaha yang paling besar di Nigeria. Apakah sistem agama yang muncul di Nigeria akan menjadi norma bagi seluruh Afrika? Apa artinya? Artinya, hadirnya agama Kristen di Benua Afrika adalah direkayasa untuk keperluan kekuasaan Kolonialisme (penjajahan) dan Westernisasi, serupa pula dengan yang terjadi di Indonesia atau dimanapun di muka bumi.
Jehovah Witness, sekte yang kuat
Menurut presentasenya, "Jehovah Witness" telah meraih kemajuan paling fenomenal dari seluruh sekte agama pada hampir dua abad yang lalu. Hal ini dimungkinkan karena mereka memprogram diri mereka sendiri lima kali dalam satu minggu dalam "Kerajaannya" sendiri, dan apa yang mereka pelajari diimplementasikan selama akhir minggu.
Mereka telah membuat kata "Jehovah" menjadi sangat terkenal. Mereka mengetuk pintu di rumah setiap orang di Afrika Selatan, dan mengajukan pertanyaan "Siapa nama-Nya?" dan umat Kristen Ortodoks akan menjawab "Tuhan". Mereka pun menjawab, "Tuhan bukanlah nama, Tuhan merupakan obyek sembahan. "Bapak" kata kaum Ortodoks tersebut sebagai jawaban kedua. "Apakah Bapakmu Tuhan? Tentu bukan! Lalu siapa namaNya? Jehovah adalah namaNya," kata 'saksi' tersebut. Dan mereka pun telah menjadi ahli dari kalimatnya tersebut, dan menjadikannya sebuah sekte agama baru.
Tetragammaton
Untuk pemahaman yang utuh, mengapa tidak kita tanyakan saja kepada mereka, dari mana mereka mendapatkan kata Jehovah tersebut? Dan mereka pasti akan menjawab, "dari Kitab Suci, Bible." Apa yang dikatakan Bible? Apakah disana terdapat kata J-e-h-o-v-a-h? Mereka pasti akan menjawab, "Tidak, di sana terdapat sebuah 'tetragrammaton' yang merupakan asal kata Jehovah." Apa yang disebut dengan tetragrammaton? Sepertinya tak seorangpun pernah mendengar istilah mistis ini dua abad yang lalu. Di University of Illinois Amerika Serikat, Ahmad Deedat pada tahun 1960an pernah mengajukan pertanyaan kepada sekelompok mahasiswa dan dosen mengenai apakah mereka pernah mendengar kata ini? Tak seorangpun yang tahu hasilnya. Tapi setiap pengikut Jehovah Witness sepertinya tahu, bahkan mereka yang paling awam sekalipun. Mereka telah betul-betul ditetapkan, mereka merupakan profesor dari sebuah kata - Jehovah.
Lalu apakah sebenarnya "tetragrammaton' itu? Jehovah Witness menjawab, "Y H W H". Bukan itu, yang ingin kita ketahui dari anda adalah apa arti dari kata tetragrammaton? Kita akan melihat bahwa mereka merasa ragu dalam memberikan jawabannya. Mereka betul-betul tidak tahu dan juga merasa malu dalam memberikan jawabannya bahwa "Tetra" dalam bahasa Yunani berarti EMPAT dan "grammaton" berarti HURUF. Jadi artinya "sebuah kata yang terdiri dari empat huruf.
Dapatkah anda membaca kata Jehovah dalam empat huruf tetragrammaton Y H W H? "Tidak" kata pengikut Jehovah Witness, "Kita hendaknya menambah huruf hidup pada empat konsonan ini agar bisa dihasilkan bunyi. Awalnya, baik bahasa Hebrew maupun Arab ditulis tanpa tanda-tanda huruf hidup. Para pengguna asli dari tiap bahasa mampu membacanya tanpa huruf hidup tersebut. NAmun tidak demikian halnya dengan orang luar.
Irregularity of "J"
Kita akan menambahkan huruf hidup seperti yang diinginkan oleh "Witness" di atas. YHWH menjadi YeHoWaH. Seperti sebuah sulap yang mereka sukai, tapi mereka tidak akan pernah menjelaskan Jehovah! Tanyakan kepada mereka, dari mana mereka mendapatkan kata "J" ini. Mereka akan mengatakan kepada anda bahwa "ini merupakan pelafalan 'populer' dari abad ke 16. "Bunyi pasti dari empat huruf YHWH tidak diketahui oleh orang Yahudi dan non-Yahudi, tapi mereka memaksakan kata JEHOVAH ke dalam tenggorokkan setiap orang. Orang-orang Kristen Eropa telah mengembangkan sebuah keberterimaan (Ketidakteraturan) dari huruf "J". Mereka menambahkan J's di mana tidak ada yang seperti Jays!
Yael menjadi Joel
Yehuda menjadi Juda
Yeheshua menjadi Joshua
Yusuf menjadi Joseph
Yunus menjadi Jonah
Yesus menjadi Jesus
Yehowa menjadi Jehovah
Kesewenangan Barat tak ada batasnya dalam mengubah nama-nama Yahudi menjadi nama-nama Non-Yahudi. Huruf YHWH muncul dalam Kitab Hebrew sebanyak 6823 kali, bergantian dengan kata "Elohim" yang hadir sebagai kombinasinya sebanyak 156 kali dalam buku yang disebut sebagai Kejadian. Kombinasi dari YHWH/ELOHIM ini secara konsisten diterjemahkan ke dalam Injil berbahasa Inggris sebagai "Tuhan Raja", "Tuhan Raja", "Tuhan Raja" tanpa penjelasan definisi asal-usul katanya.
Asal-Usul
Apakah yang disebut dengan YHWH, dan apa yang disebut ELOHIM? Karena orang-orang Yahudi tidak mengucapkan kata YHWH selama berabad-abad, dan karena Pimpinan Rabi tidak akan membiarkan terdengarnya kata yang tidak dapat diucapkan, maka mereka menarik hak dalam menyatakan secara dogmatis bagaimana kata tersebut berbunyi. Kita harus mencari bantuan orang-orang Arab untuk mempertahankan bahasa Hebrew, sebuah bahasa yang nyaris mati karena tidak digunakan sehari-hari karena ketiadaan bunyi vokal dan hanya konsonan semata. Dalam setiap permasalahan linguistik, harus dilakukan akses terhadap bahasa Arab, sebagai bahasa serumpun, yang masih tetap hidup dan layak. Secara rasial dan secara linguistik, orang Arab dan Yahudi memiliki asal-usul yang sama, yaitu satu moyang, Nabi Ibrahim (Abraham).
Perhatikanlah persamaan yang menonjol antara kedua bahasa, seringkali kata-kata yang memiliki bunyi serupa akan membawa makna identik pada keduanya:
Hebrew Arab Inggris
Elah Ilah God
Ikhud Ahad One
Yaum Yaum Day
Shaloam Salaam Peace
Yahuwa Ya Huwa Oh He
YHWH atau Yehova atau Yahuwa semuanya memiliki makna yang sama. "Ya" merupakan sebuah artikulasi dan sebuah partikel seruan baik dalam bahasa Hebrew maupun Arab, yang berarti Oh! Dan "Huwa" atau "Hu" memiliki arti He/ Dia, baik dalam bahasa Hebrew maupun Arab. Jadi, keduanya (Yahuwa ataupun Ya Huwa) memiliki arti Oh He (Oh Dia). Jadi dari mana mereka dapat Jehovah?
Sebab itulah, jika ingin mendengar 'suara' yang sesungguhnya, seharusnya Anda dengarlah dari 'sumber'nya dan bukan dengar dari 'gaung'nya. Karena sejak awal, 'jejak suara' Tuhan ada di Timur, dan bukan di Barat; lantas mengapa pula kalian mendengar dari Barat?
download ebook "Yesus Tidak Mati"
Jika Jehovah merupakan nama dari Tuhan Yang Maha Kuasa, dan jika 27 versi Kitab Perjanjian Baru dibuat oleh-Nya, maka ini merupakan sebuah anomali atau penyimpangan dari tatanan yang tertinggi, bahwa Dia (Jehovah) tidak mampu memiliki Nama-Nya sendiri yang tercatat dalam "Firman"-Nya, karena harus ditambahkan oleh umat Kristen dalam Injil Yahudi. Umat Kristen menyatakan bahwa mereka memiliki lebih dari 24.000 dari apa yang disebut sebagai "asal-usul" dari Kitab Sucinya dalam bahasa Yunani, dan tidak ada satupun tulisan yang ditulis oleh "Jehovah" di dalamnya. Yang lebih meragukan, "nama Tuhan" ini telah secara jahat diganti oleh kalimat Yunani kyrios.
Doktrin-doktrin Uncle Sam
Sekitar hampir dua abad yang lalu, secara tiba-tiba lebih dari seratus aliran baru Kekristenan bermunculan di Amerika Serikat. The Seventh Day Adventists, The Christian Scientiests, The Menonites, The Christiandelphins, The Jehovah's Witnesses dan semacamnya. Pendiri The Jehovah's Witnesses, seorang hakim, Rutherford, oleh orang-orang Kristen Ortodoks tidak dianggap sebagai seorang "hakim". Ia merupakan seorang kutu-buku dan seorang penulis yang sangat produktif. Dia mempelajari kata 'Jehovah' dan mendirikan aliran The Jehovah Witnesses. Bacalah "Thirty Years A Watchtower Slave" yang ditulis oleh Schelin. Bukan teologinya yang menarik, tetapi modus operandi-nya. Bacalah, bagaimana sekte yang tak terkontrol ini sangat terkait dengan penaklukan Jerman sebelum Hitler. Bacalah, bagaimana kedatangan kedua kali mereka di Jerman Barat. Pikirkan, mengapa mereka melakukan usaha yang paling besar di Nigeria. Apakah sistem agama yang muncul di Nigeria akan menjadi norma bagi seluruh Afrika? Apa artinya? Artinya, hadirnya agama Kristen di Benua Afrika adalah direkayasa untuk keperluan kekuasaan Kolonialisme (penjajahan) dan Westernisasi, serupa pula dengan yang terjadi di Indonesia atau dimanapun di muka bumi.
Jehovah Witness, sekte yang kuat
Menurut presentasenya, "Jehovah Witness" telah meraih kemajuan paling fenomenal dari seluruh sekte agama pada hampir dua abad yang lalu. Hal ini dimungkinkan karena mereka memprogram diri mereka sendiri lima kali dalam satu minggu dalam "Kerajaannya" sendiri, dan apa yang mereka pelajari diimplementasikan selama akhir minggu.
Mereka telah membuat kata "Jehovah" menjadi sangat terkenal. Mereka mengetuk pintu di rumah setiap orang di Afrika Selatan, dan mengajukan pertanyaan "Siapa nama-Nya?" dan umat Kristen Ortodoks akan menjawab "Tuhan". Mereka pun menjawab, "Tuhan bukanlah nama, Tuhan merupakan obyek sembahan. "Bapak" kata kaum Ortodoks tersebut sebagai jawaban kedua. "Apakah Bapakmu Tuhan? Tentu bukan! Lalu siapa namaNya? Jehovah adalah namaNya," kata 'saksi' tersebut. Dan mereka pun telah menjadi ahli dari kalimatnya tersebut, dan menjadikannya sebuah sekte agama baru.
Tetragammaton
Untuk pemahaman yang utuh, mengapa tidak kita tanyakan saja kepada mereka, dari mana mereka mendapatkan kata Jehovah tersebut? Dan mereka pasti akan menjawab, "dari Kitab Suci, Bible." Apa yang dikatakan Bible? Apakah disana terdapat kata J-e-h-o-v-a-h? Mereka pasti akan menjawab, "Tidak, di sana terdapat sebuah 'tetragrammaton' yang merupakan asal kata Jehovah." Apa yang disebut dengan tetragrammaton? Sepertinya tak seorangpun pernah mendengar istilah mistis ini dua abad yang lalu. Di University of Illinois Amerika Serikat, Ahmad Deedat pada tahun 1960an pernah mengajukan pertanyaan kepada sekelompok mahasiswa dan dosen mengenai apakah mereka pernah mendengar kata ini? Tak seorangpun yang tahu hasilnya. Tapi setiap pengikut Jehovah Witness sepertinya tahu, bahkan mereka yang paling awam sekalipun. Mereka telah betul-betul ditetapkan, mereka merupakan profesor dari sebuah kata - Jehovah.
Lalu apakah sebenarnya "tetragrammaton' itu? Jehovah Witness menjawab, "Y H W H". Bukan itu, yang ingin kita ketahui dari anda adalah apa arti dari kata tetragrammaton? Kita akan melihat bahwa mereka merasa ragu dalam memberikan jawabannya. Mereka betul-betul tidak tahu dan juga merasa malu dalam memberikan jawabannya bahwa "Tetra" dalam bahasa Yunani berarti EMPAT dan "grammaton" berarti HURUF. Jadi artinya "sebuah kata yang terdiri dari empat huruf.
Dapatkah anda membaca kata Jehovah dalam empat huruf tetragrammaton Y H W H? "Tidak" kata pengikut Jehovah Witness, "Kita hendaknya menambah huruf hidup pada empat konsonan ini agar bisa dihasilkan bunyi. Awalnya, baik bahasa Hebrew maupun Arab ditulis tanpa tanda-tanda huruf hidup. Para pengguna asli dari tiap bahasa mampu membacanya tanpa huruf hidup tersebut. NAmun tidak demikian halnya dengan orang luar.
Irregularity of "J"
Kita akan menambahkan huruf hidup seperti yang diinginkan oleh "Witness" di atas. YHWH menjadi YeHoWaH. Seperti sebuah sulap yang mereka sukai, tapi mereka tidak akan pernah menjelaskan Jehovah! Tanyakan kepada mereka, dari mana mereka mendapatkan kata "J" ini. Mereka akan mengatakan kepada anda bahwa "ini merupakan pelafalan 'populer' dari abad ke 16. "Bunyi pasti dari empat huruf YHWH tidak diketahui oleh orang Yahudi dan non-Yahudi, tapi mereka memaksakan kata JEHOVAH ke dalam tenggorokkan setiap orang. Orang-orang Kristen Eropa telah mengembangkan sebuah keberterimaan (Ketidakteraturan) dari huruf "J". Mereka menambahkan J's di mana tidak ada yang seperti Jays!
Yael menjadi Joel
Yehuda menjadi Juda
Yeheshua menjadi Joshua
Yusuf menjadi Joseph
Yunus menjadi Jonah
Yesus menjadi Jesus
Yehowa menjadi Jehovah
Kesewenangan Barat tak ada batasnya dalam mengubah nama-nama Yahudi menjadi nama-nama Non-Yahudi. Huruf YHWH muncul dalam Kitab Hebrew sebanyak 6823 kali, bergantian dengan kata "Elohim" yang hadir sebagai kombinasinya sebanyak 156 kali dalam buku yang disebut sebagai Kejadian. Kombinasi dari YHWH/ELOHIM ini secara konsisten diterjemahkan ke dalam Injil berbahasa Inggris sebagai "Tuhan Raja", "Tuhan Raja", "Tuhan Raja" tanpa penjelasan definisi asal-usul katanya.
Asal-Usul
Apakah yang disebut dengan YHWH, dan apa yang disebut ELOHIM? Karena orang-orang Yahudi tidak mengucapkan kata YHWH selama berabad-abad, dan karena Pimpinan Rabi tidak akan membiarkan terdengarnya kata yang tidak dapat diucapkan, maka mereka menarik hak dalam menyatakan secara dogmatis bagaimana kata tersebut berbunyi. Kita harus mencari bantuan orang-orang Arab untuk mempertahankan bahasa Hebrew, sebuah bahasa yang nyaris mati karena tidak digunakan sehari-hari karena ketiadaan bunyi vokal dan hanya konsonan semata. Dalam setiap permasalahan linguistik, harus dilakukan akses terhadap bahasa Arab, sebagai bahasa serumpun, yang masih tetap hidup dan layak. Secara rasial dan secara linguistik, orang Arab dan Yahudi memiliki asal-usul yang sama, yaitu satu moyang, Nabi Ibrahim (Abraham).
Perhatikanlah persamaan yang menonjol antara kedua bahasa, seringkali kata-kata yang memiliki bunyi serupa akan membawa makna identik pada keduanya:
Hebrew Arab Inggris
Elah Ilah God
Ikhud Ahad One
Yaum Yaum Day
Shaloam Salaam Peace
Yahuwa Ya Huwa Oh He
YHWH atau Yehova atau Yahuwa semuanya memiliki makna yang sama. "Ya" merupakan sebuah artikulasi dan sebuah partikel seruan baik dalam bahasa Hebrew maupun Arab, yang berarti Oh! Dan "Huwa" atau "Hu" memiliki arti He/ Dia, baik dalam bahasa Hebrew maupun Arab. Jadi, keduanya (Yahuwa ataupun Ya Huwa) memiliki arti Oh He (Oh Dia). Jadi dari mana mereka dapat Jehovah?
Sebab itulah, jika ingin mendengar 'suara' yang sesungguhnya, seharusnya Anda dengarlah dari 'sumber'nya dan bukan dengar dari 'gaung'nya. Karena sejak awal, 'jejak suara' Tuhan ada di Timur, dan bukan di Barat; lantas mengapa pula kalian mendengar dari Barat?
download ebook "Yesus Tidak Mati"
Minggu, 20 Januari 2013
Kisah dibalik Konsili Nicea
"Dan segala yang kau ingin tahu tentang Alkitab dapat disimpulkan oleh doktor agama yang terkenal, Martyn Percy." kata Teabing sambil menambahkan,
"Alkitab tidak datang dengan cara difaks dari surga."
"Alkitab diproduksi dan direproduksi oleh manusia, bukan Tuhan. Alkitab tidak jatuh secara ajaib dari langit. Orang membuatnya sebagai catatan sejarah dari hiruk-pikuk jaman, dan itupun telah melibatkan penerjemahan, penambahan, pengurangan, dan revisi yang tak terhitung. Sejarah tidak pernah punya versi pasti buku itu."
"Yesus Kristus merupakan tokoh sejarah dengan pengaruh luar biasa, bahkan adalah pemimpin umat yang paling kontroversial dan membingungkan sekaligus sumber inspirasi yang pernah ada di dunia. Sebagai Mesiah yang telah diramalkan, Yesus melebihi raja-raja, memberi inspirasi kepada jutaan orang, dan menjadi sumber filosofi baru. Sebagai keturunan Raja Salomo (Sulaiman) dan Raja David (Daud), Yesus berhak mewarisi takhta Raja Yahudi. Lebih dari delapan puluh ajaran berasal dari induk sumber Perjanjian Baru, namun hanya relatif sedikit yang dipilih untuk dicantumkan (menjadi Bible)-- diantaranya Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes."
"Siapa yang memilih ajaran untuk dicantumkan?" tanya Sophie.
Dengan semangat Teabing menjelaskan: "Ironi mendasar dari Kristen! Alkitab yang kita kenal sekarang ini disusun oleh kaisar Roma penganut pagan, Konstantin Agung."
"Kukira Konstantin penganut Kristen." kata Sophie.
"Salah, Tak benar itu," sergah Teabing sambil terbatuk. "Dia seorang pagan seumur hidup. Bahkan ia dibaptis di ranjang kematiannya, ketika dirinya terlalu lemah untuk melawan. Di masa Konstantin, agama resmi Romawi adalah pemujaan matahari --kelompok pemujaan Sol Invictus, atau Matahari Tak Tertandingi-- dan Konstantin adalah kepala pendetanya. Namun nahas baginya, sebuah eforia religius tengah tumbuh dan mencengkram Roma. Tiga abad setelah penyaliban Yesus Kristus, para pengikut Yesus tengah tumbuh berlipat-lipat. Kaum Kristen dan pagan mulai berperang, dan konflik itu tumbuh sedemikian besar sehingga mengancam akan membelah Roma menjadi dua. Karena itu Konstantin memutuskan bahwa suatu langkah harus dilakukan. Maka, pada tahun 325 masehi, ia memutuskan untuk menyatukan Roma dalam sebuah agama hybrid, agama yang disatukan: agama pagan dengan kristen, menjadi tunggal namun dalam kemasan Kristen."
Sophie terkejut, "Mengapa seorang kaisar pagan memilih kemasan Kristen sebagai agama resmi?"
Teabing tersenyum, dan menjelaskan: "Kaisar Konstantin adalah pebisnis ulung, ia dapat melihat bahwa Kristen saat itu sedang naik daun, dan ia sekedar bertaruh pada kuda pemenang. Para sejarawan masih memuji kecemerlangan Konstantin yang mengalihkan kaum pagan pemuja matahari menjadi Kristen. Dengan meleburkan simbol-simbol, tanggal-tanggal, serta ritus-ritus pagan ke dalam adat-istiadat Kristen yang sedang tumbuh, dia telah menciptakan sejenis agama hibrid yang dapat diterima oleh kedua belah pihak."
"Transmogrifikasi" ujar Langdon. "Jejak-jejak agama pagan dalam simbologi Kristen tak terbantahkan. Cakram matahari kaum Mesir Kuno menjadi lingkaran halo para santo Katolik. Berbagai piktogram Isis yang sedang menyusui putranya yang lahir karena mukjizat, Horus, menjadi cetak biru bagi berbagai penggambaran modern kita akan Perawan Maria yang sedang menyusui Bayi Yesus. Dan, nyaris semua unsur dalam ritus Katolik --mitra, altar, doksologi, dan komuni, atau tindakan "makan Tuhan"-- diambil langsung dari agama-agama misteri pagan di masa awal."
Teabing menyambung, "Jangan biarkan seorang simbolog mulai bicara tentang ikon-ikon Kristen. Karena tak ada yang asli dalam Kristen. Mithras, Tuhan pra-Kristen --disebut Putra Tuhan dan Cahaya Dunia-- lahir dan mati pada 25 Desember, dikubur dalam sebuah makam batu, dan kemudian dibangkitkan dalam tiga hari. Omong-omong, 25 Desember juga hari lahir Osiris, Adonis, dan Dionysius, Krishna yang baru lahir dihadiahi emas, dupa, dan kemenyan. Bahkan hari suci mingguan umat Kristen dicuri dari kaum pagan."
"Aslinya, Kristen menghormati Sabat Yahudi pada hari Sabtu, tapi Konstantin menggesernya agar bertemu dengan hari kaum pagan memuliakan matahari.
Hingga hari ini, kebanyakan jemaat gereja menghadiri layanan Gereja pada Minggu pagi tanpa sadar sama sekali bahwa mereka sedang melakukan penghormatan mingguan pada dewa matahari kaum pagan-- Sun-day, hari matahari."
"Dan segala hal ini berhubungan dengan Grail?" tanya Sophie.
"Memang," jawab Teabing. "Dan sadarilah, selama fusi agama-agama itu, Konstantin perlu memperkuat tradisi Kristen baru, dan ia mengadakan sebuah pertemuan ekumenikal termasyhur, yang dikenal dengan nama Konsili Nicea."
Dan kebanyakan kaum Kristen hanya mengenalnya sebagai nama tempat lahir Pengakuan Iman Nicea.
"Dalam pertemuan ini," kata Teabing, banyak aspek dari Kristen diperdebatkan dan ditetapkan berdasarkan voting --tanggal Paskah, peranan para uskup, administrasi sakramen, dan, tentu saja, ketuhanan Yesus."
"Aku tak mengerti. Ketuhanan Yesus?" tanya Sophie.
"Demikianlah," jelas Teabing, "hingga detik itu dalam sejarah, Yesus dipandang oleh para pengikutnya sebagai nabi yang dapat mati.. seorang lelaki agung yang dikaruniai mukjizat, tapi tak lebih dari seorang manusia. Seorang fana, manusia biasa."
"Bukan Putra Tuhan?" tanya Sophie.
"Benar," sahut Teabing. "Penetapan Yesus sebagai 'Putra Tuhan' secara resmi diusulkan dan ditetapkan melalui voting oleh Konsili Nicea."
"Tunggu dulu. Maksudmu, keilahian Yesus adalah hasil voting?" tanya Sophie lagi.
"Sebuah voting yang ketat, sebenarnya," tambah Teabing. "Menetapkan keilahian Kristus penting sekali bagi penyatuan lebih jauh kekaisaran Romawi dan bagi basis kekuatan Vatikan yang baru. Dengan secara resmi memuja Yesus sebagai Putra Tuhan, Konstantin mengubah Yesus menjadi dewa yang berada di luar cakupan dunia manusia, sebuah pemahaman baru yang menjadi luar biasa. Ini bukan hanya menyisihkan tantangan selanjutnya dari kaum pagan terhadap Kristen, tapi membuat para pengikut Kristus kini dapat menebus dosa mereka hanya melalui pembuatan sebuah saluran suci --Gereja Katolik Roma."
"Semua ini masalah kekuasaan," lanjut Teabing. "Kristus sebagai Juru Selamat adalah amat penting bagi berfungsinya Gereja dan Negara. Banyak sarjana mengklaim bahwa Gereja masa awal benar-benar mencuri Yesus dari para pengikut aslinya, dengan membajak pesan-pesan manusiawinya, mengaburkannya dalam jubah ketuhanan yang tak tertembus, dan menggunakannya untuk meluaskan kekuasaan mereka."
"Konstantin mengambil keuntungan dari pengaruh yang besar dan arti penting Kristus. Dalam melakukan itu, dia telah membentuk wajah Kristen seperti yang kita kenal sekarang."
"Masalahnya adalah ini," kata Teabing, dan ia melanjutkan, "Karena Konstantin meningkatkan status Yesus hampir empat abad setelah kematian Yesus, ribuan dokumen yang mencatat kehidupannya sebagai manusia biasa sudah terlanjur ada. Untuk menulis ulang buku-buku sejarah, Konstantin tahu bahwa ia perlu mengambil sebuah langkah berani. Dari sinilah timbul sebuah momen paling menentukan dalam sejarah Kristen. Konstantin menitahkan dan membiayai penyusunan sebuah Alkitab baru, yang meniadakan semua ajaran yang berbicara tentang segala sejarah dan perilaku manusiawi Yesus, serta memasukkan ajaran-ajaran yang membuat Yesus seakan Tuhan. Injil-injil terdahulu dianggap melanggar hukum, lalu dikumpulkan dan dibakar."
"Siapapun yang memilih Injil-injil terlarang dan bukannya versi Konstantin akan dianggap sebagai kaum bid'ah, heretic. Kata Heretic diambil dari momen sejarah tersebut. Kata Latin haereticus berarti 'pilihan'. Mereka yang 'memilih' sejarah asli dari Kristus adalah kaum heretic pertama di dunia."
"Untungnya bagi para sejarawan, beberapa gospel yang dicoba untuk dimusnahkan oleh Konstantin berhasil diselamatkan. Dead Sea Scrolls, Gulungan-gulungan Laut Mati, ditemukan pada tahun 1950an tersembunyi di sebuah gua dekat Qumran di gurun Yudea. Dan, tentu saja, Gulungan Koptik pada tahun 1945 di Nag Hamadi. Sebagai tambahan dari penuturan kisah Grail sejati, dokumen-dokumen ini berbicara tentang kependetaan Kristus dalam keadaan-keadaan yang amat manusiawi. Tentu saja Vatikan, dalam memelihara tradisi misinformasi mereka, mencoba amat keras untuk menekan pengabaran gulungan-gulungan naskah ini. Mengapa tidak? Gulungan-gulungan itu menggarisbawahi ketidakcocokan dan pemalsuan sejarah yang mencolok, jelas-jelas membenarkan bahwa Alkitab modern disusun dan diedit oleh manusia yang memiliki sebuah agenda politis --untuk mempromosikan keilahian seorang lelaki bernama Yesus Kristus dan memanfaatkan pengaruhnya untuk mengukuhkan basis kekuasaan mereka sendiri."
"Namun amatlah penting untuk mengingat bahwa hasrat Gereja modern untuk menekan dokumen-dokumen ini datang dari kepercayaan tulus yang lahir dari pandangan [yang terlanjur] mapan mereka akan Kristus. Vatikan terbangun dari orang-orang yang teramat saleh, yang sungguh-sungguh percaya bahwa dokumen-dokumen yang bertentangan ini tak bisa lain adalah kesaksian [yang seolah] palsu."
"Seperti yang dapat kau lihat, kaum pendeta meyakini bahwa dokumen-dokumen penentang ini sebagai kesaksian palsu. Itu dapat dimengerti. Alkitab versi Konstantin telah menjadi kebenaran mereka selama berabad-abad. Maka, karena itu tiada seorangpun yang lebih terindoktrinasi kecuali pendoktrin itu sendiri."
"Mereka memuja tuhan-tuhan dari para leluhur mereka, bahwa nyaris segala yang diajarkan para leluhur mereka tentang Kristus adalah palsu."
Sophie memandang lagi kutipan Leonardo Da Vinci di depannya yang berbunyi: "Kebodohan membabi-buta telah menyesatkan mereka. Oi orang-orang bodoh, bukalah mata kalian."
---
Demikianlah kisah Da Vinci Code yang sesungguhnya merupakan catatan sejarah riil dengan nama-nama dan kejadian-kejadian nyata yang dituliskan kembali dan disusun dalam bentuk novel, dengan penambahan beberapa tokoh penarasi fiktif. Karena dengan cara demikianlah si penulis jeniusnya, Dan Brown, dapat aman dan selamat dari kemungkinan ancaman dari pihak-pihak tertentu. Dan, tentu saja banyak sanggahan yang kemudian terbit untuk mendustakan buku ini, meskipun di halaman depan Dan Brown sang penulis jenius lulusan Univesitas Harvard, telah membubuhkan jaminannya bahwa semua data dan fakta yang termuat dalam karyanya ini adalah nyata dan akurat!
Dan tentang itu semua, sebaiknya kita tak lupa pada kata-kata bijak: "Siapa yang mecari, ia akan menemukan." "Siapa yang mengetuk pintu, ia akan dibukakan." dan "Siapa yang berpikir, ia akan mendapatkan."
Buku ini menjadi best seller dan terjual lebih dari 150 juta copy di seluruh dunia dalam 86 bahasa, serta telah di filmkan meskipun tak sesukses bukunya. Buku yang ditulis berdasarkan data & fakta otentik ini telah menjadikan penulisnya sebagai penulis terkaya dunia.
download ebook "Yesus Tidak Mati"
"Alkitab tidak datang dengan cara difaks dari surga."
"Alkitab diproduksi dan direproduksi oleh manusia, bukan Tuhan. Alkitab tidak jatuh secara ajaib dari langit. Orang membuatnya sebagai catatan sejarah dari hiruk-pikuk jaman, dan itupun telah melibatkan penerjemahan, penambahan, pengurangan, dan revisi yang tak terhitung. Sejarah tidak pernah punya versi pasti buku itu."
"Yesus Kristus merupakan tokoh sejarah dengan pengaruh luar biasa, bahkan adalah pemimpin umat yang paling kontroversial dan membingungkan sekaligus sumber inspirasi yang pernah ada di dunia. Sebagai Mesiah yang telah diramalkan, Yesus melebihi raja-raja, memberi inspirasi kepada jutaan orang, dan menjadi sumber filosofi baru. Sebagai keturunan Raja Salomo (Sulaiman) dan Raja David (Daud), Yesus berhak mewarisi takhta Raja Yahudi. Lebih dari delapan puluh ajaran berasal dari induk sumber Perjanjian Baru, namun hanya relatif sedikit yang dipilih untuk dicantumkan (menjadi Bible)-- diantaranya Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes."
"Siapa yang memilih ajaran untuk dicantumkan?" tanya Sophie.
Dengan semangat Teabing menjelaskan: "Ironi mendasar dari Kristen! Alkitab yang kita kenal sekarang ini disusun oleh kaisar Roma penganut pagan, Konstantin Agung."
"Kukira Konstantin penganut Kristen." kata Sophie.
"Salah, Tak benar itu," sergah Teabing sambil terbatuk. "Dia seorang pagan seumur hidup. Bahkan ia dibaptis di ranjang kematiannya, ketika dirinya terlalu lemah untuk melawan. Di masa Konstantin, agama resmi Romawi adalah pemujaan matahari --kelompok pemujaan Sol Invictus, atau Matahari Tak Tertandingi-- dan Konstantin adalah kepala pendetanya. Namun nahas baginya, sebuah eforia religius tengah tumbuh dan mencengkram Roma. Tiga abad setelah penyaliban Yesus Kristus, para pengikut Yesus tengah tumbuh berlipat-lipat. Kaum Kristen dan pagan mulai berperang, dan konflik itu tumbuh sedemikian besar sehingga mengancam akan membelah Roma menjadi dua. Karena itu Konstantin memutuskan bahwa suatu langkah harus dilakukan. Maka, pada tahun 325 masehi, ia memutuskan untuk menyatukan Roma dalam sebuah agama hybrid, agama yang disatukan: agama pagan dengan kristen, menjadi tunggal namun dalam kemasan Kristen."
Sophie terkejut, "Mengapa seorang kaisar pagan memilih kemasan Kristen sebagai agama resmi?"
Teabing tersenyum, dan menjelaskan: "Kaisar Konstantin adalah pebisnis ulung, ia dapat melihat bahwa Kristen saat itu sedang naik daun, dan ia sekedar bertaruh pada kuda pemenang. Para sejarawan masih memuji kecemerlangan Konstantin yang mengalihkan kaum pagan pemuja matahari menjadi Kristen. Dengan meleburkan simbol-simbol, tanggal-tanggal, serta ritus-ritus pagan ke dalam adat-istiadat Kristen yang sedang tumbuh, dia telah menciptakan sejenis agama hibrid yang dapat diterima oleh kedua belah pihak."
"Transmogrifikasi" ujar Langdon. "Jejak-jejak agama pagan dalam simbologi Kristen tak terbantahkan. Cakram matahari kaum Mesir Kuno menjadi lingkaran halo para santo Katolik. Berbagai piktogram Isis yang sedang menyusui putranya yang lahir karena mukjizat, Horus, menjadi cetak biru bagi berbagai penggambaran modern kita akan Perawan Maria yang sedang menyusui Bayi Yesus. Dan, nyaris semua unsur dalam ritus Katolik --mitra, altar, doksologi, dan komuni, atau tindakan "makan Tuhan"-- diambil langsung dari agama-agama misteri pagan di masa awal."
Teabing menyambung, "Jangan biarkan seorang simbolog mulai bicara tentang ikon-ikon Kristen. Karena tak ada yang asli dalam Kristen. Mithras, Tuhan pra-Kristen --disebut Putra Tuhan dan Cahaya Dunia-- lahir dan mati pada 25 Desember, dikubur dalam sebuah makam batu, dan kemudian dibangkitkan dalam tiga hari. Omong-omong, 25 Desember juga hari lahir Osiris, Adonis, dan Dionysius, Krishna yang baru lahir dihadiahi emas, dupa, dan kemenyan. Bahkan hari suci mingguan umat Kristen dicuri dari kaum pagan."
"Aslinya, Kristen menghormati Sabat Yahudi pada hari Sabtu, tapi Konstantin menggesernya agar bertemu dengan hari kaum pagan memuliakan matahari.
Hingga hari ini, kebanyakan jemaat gereja menghadiri layanan Gereja pada Minggu pagi tanpa sadar sama sekali bahwa mereka sedang melakukan penghormatan mingguan pada dewa matahari kaum pagan-- Sun-day, hari matahari."
"Dan segala hal ini berhubungan dengan Grail?" tanya Sophie.
"Memang," jawab Teabing. "Dan sadarilah, selama fusi agama-agama itu, Konstantin perlu memperkuat tradisi Kristen baru, dan ia mengadakan sebuah pertemuan ekumenikal termasyhur, yang dikenal dengan nama Konsili Nicea."
Dan kebanyakan kaum Kristen hanya mengenalnya sebagai nama tempat lahir Pengakuan Iman Nicea.
"Dalam pertemuan ini," kata Teabing, banyak aspek dari Kristen diperdebatkan dan ditetapkan berdasarkan voting --tanggal Paskah, peranan para uskup, administrasi sakramen, dan, tentu saja, ketuhanan Yesus."
"Aku tak mengerti. Ketuhanan Yesus?" tanya Sophie.
"Demikianlah," jelas Teabing, "hingga detik itu dalam sejarah, Yesus dipandang oleh para pengikutnya sebagai nabi yang dapat mati.. seorang lelaki agung yang dikaruniai mukjizat, tapi tak lebih dari seorang manusia. Seorang fana, manusia biasa."
"Bukan Putra Tuhan?" tanya Sophie.
"Benar," sahut Teabing. "Penetapan Yesus sebagai 'Putra Tuhan' secara resmi diusulkan dan ditetapkan melalui voting oleh Konsili Nicea."
"Tunggu dulu. Maksudmu, keilahian Yesus adalah hasil voting?" tanya Sophie lagi.
"Sebuah voting yang ketat, sebenarnya," tambah Teabing. "Menetapkan keilahian Kristus penting sekali bagi penyatuan lebih jauh kekaisaran Romawi dan bagi basis kekuatan Vatikan yang baru. Dengan secara resmi memuja Yesus sebagai Putra Tuhan, Konstantin mengubah Yesus menjadi dewa yang berada di luar cakupan dunia manusia, sebuah pemahaman baru yang menjadi luar biasa. Ini bukan hanya menyisihkan tantangan selanjutnya dari kaum pagan terhadap Kristen, tapi membuat para pengikut Kristus kini dapat menebus dosa mereka hanya melalui pembuatan sebuah saluran suci --Gereja Katolik Roma."
"Semua ini masalah kekuasaan," lanjut Teabing. "Kristus sebagai Juru Selamat adalah amat penting bagi berfungsinya Gereja dan Negara. Banyak sarjana mengklaim bahwa Gereja masa awal benar-benar mencuri Yesus dari para pengikut aslinya, dengan membajak pesan-pesan manusiawinya, mengaburkannya dalam jubah ketuhanan yang tak tertembus, dan menggunakannya untuk meluaskan kekuasaan mereka."
"Konstantin mengambil keuntungan dari pengaruh yang besar dan arti penting Kristus. Dalam melakukan itu, dia telah membentuk wajah Kristen seperti yang kita kenal sekarang."
"Masalahnya adalah ini," kata Teabing, dan ia melanjutkan, "Karena Konstantin meningkatkan status Yesus hampir empat abad setelah kematian Yesus, ribuan dokumen yang mencatat kehidupannya sebagai manusia biasa sudah terlanjur ada. Untuk menulis ulang buku-buku sejarah, Konstantin tahu bahwa ia perlu mengambil sebuah langkah berani. Dari sinilah timbul sebuah momen paling menentukan dalam sejarah Kristen. Konstantin menitahkan dan membiayai penyusunan sebuah Alkitab baru, yang meniadakan semua ajaran yang berbicara tentang segala sejarah dan perilaku manusiawi Yesus, serta memasukkan ajaran-ajaran yang membuat Yesus seakan Tuhan. Injil-injil terdahulu dianggap melanggar hukum, lalu dikumpulkan dan dibakar."
"Siapapun yang memilih Injil-injil terlarang dan bukannya versi Konstantin akan dianggap sebagai kaum bid'ah, heretic. Kata Heretic diambil dari momen sejarah tersebut. Kata Latin haereticus berarti 'pilihan'. Mereka yang 'memilih' sejarah asli dari Kristus adalah kaum heretic pertama di dunia."
"Untungnya bagi para sejarawan, beberapa gospel yang dicoba untuk dimusnahkan oleh Konstantin berhasil diselamatkan. Dead Sea Scrolls, Gulungan-gulungan Laut Mati, ditemukan pada tahun 1950an tersembunyi di sebuah gua dekat Qumran di gurun Yudea. Dan, tentu saja, Gulungan Koptik pada tahun 1945 di Nag Hamadi. Sebagai tambahan dari penuturan kisah Grail sejati, dokumen-dokumen ini berbicara tentang kependetaan Kristus dalam keadaan-keadaan yang amat manusiawi. Tentu saja Vatikan, dalam memelihara tradisi misinformasi mereka, mencoba amat keras untuk menekan pengabaran gulungan-gulungan naskah ini. Mengapa tidak? Gulungan-gulungan itu menggarisbawahi ketidakcocokan dan pemalsuan sejarah yang mencolok, jelas-jelas membenarkan bahwa Alkitab modern disusun dan diedit oleh manusia yang memiliki sebuah agenda politis --untuk mempromosikan keilahian seorang lelaki bernama Yesus Kristus dan memanfaatkan pengaruhnya untuk mengukuhkan basis kekuasaan mereka sendiri."
"Namun amatlah penting untuk mengingat bahwa hasrat Gereja modern untuk menekan dokumen-dokumen ini datang dari kepercayaan tulus yang lahir dari pandangan [yang terlanjur] mapan mereka akan Kristus. Vatikan terbangun dari orang-orang yang teramat saleh, yang sungguh-sungguh percaya bahwa dokumen-dokumen yang bertentangan ini tak bisa lain adalah kesaksian [yang seolah] palsu."
"Seperti yang dapat kau lihat, kaum pendeta meyakini bahwa dokumen-dokumen penentang ini sebagai kesaksian palsu. Itu dapat dimengerti. Alkitab versi Konstantin telah menjadi kebenaran mereka selama berabad-abad. Maka, karena itu tiada seorangpun yang lebih terindoktrinasi kecuali pendoktrin itu sendiri."
"Mereka memuja tuhan-tuhan dari para leluhur mereka, bahwa nyaris segala yang diajarkan para leluhur mereka tentang Kristus adalah palsu."
Sophie memandang lagi kutipan Leonardo Da Vinci di depannya yang berbunyi: "Kebodohan membabi-buta telah menyesatkan mereka. Oi orang-orang bodoh, bukalah mata kalian."
---
Demikianlah kisah Da Vinci Code yang sesungguhnya merupakan catatan sejarah riil dengan nama-nama dan kejadian-kejadian nyata yang dituliskan kembali dan disusun dalam bentuk novel, dengan penambahan beberapa tokoh penarasi fiktif. Karena dengan cara demikianlah si penulis jeniusnya, Dan Brown, dapat aman dan selamat dari kemungkinan ancaman dari pihak-pihak tertentu. Dan, tentu saja banyak sanggahan yang kemudian terbit untuk mendustakan buku ini, meskipun di halaman depan Dan Brown sang penulis jenius lulusan Univesitas Harvard, telah membubuhkan jaminannya bahwa semua data dan fakta yang termuat dalam karyanya ini adalah nyata dan akurat!
Dan tentang itu semua, sebaiknya kita tak lupa pada kata-kata bijak: "Siapa yang mecari, ia akan menemukan." "Siapa yang mengetuk pintu, ia akan dibukakan." dan "Siapa yang berpikir, ia akan mendapatkan."
Buku ini menjadi best seller dan terjual lebih dari 150 juta copy di seluruh dunia dalam 86 bahasa, serta telah di filmkan meskipun tak sesukses bukunya. Buku yang ditulis berdasarkan data & fakta otentik ini telah menjadikan penulisnya sebagai penulis terkaya dunia.
download ebook "Yesus Tidak Mati"
Selasa, 25 Desember 2012
Yesus tidak lahir pada 25 Desember
Dalam bukunya "Kasus Besar yang Keliru, Ternyata Yesus Malaikat", pendeta Frans Donald menulis bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Bahkan ia mengajukan pembuktian berdasarkan catatan Alkitab itu sendiri: Dalam Alkitab tertulis bahwa Yesus lahir di Bethlehem, Yudea. Pada kenyataannya kita tahu bahwa Yudea memiliki dua musim, yaitu musim panas dan musim dingin. Dan pada bulan Desember di Yudea cuaca sangat dingin dan berhujan lebat.
Dalam Injil Lukas 2: 8-11, pada waktu Yesus dilahirkan di Bethlehem Yudea, sebelum malaikat datang dan mengabarkan berita kelahiran Yesus, para gembala kala itu keluar membawa ternak mereka ke padang terbuka selama berhari-hari. Cuaca bulan Desember di Yudea sangat dingin dan berhujan lebat, apakah mungkin mereka menggembalakan ternaknya di padang terbuka pada musim dingin yang berhujan lebat seperti itu? Jelas tak mungkin, bukan?
Keterangan dari Injil Lukas tersebut menggambarkan situasi musim panas atau awal musim gugur, saat cuaca cerah dan juga gerah pada waktu malam, sehingga hewan-hewan perlu dilepas ke luar kandang. Pemahaman berdasarkan Injil Lukas ini setidaknya menegaskan bahwa tidak mungkin Yesus lahir di bulan Desember.
Sensus Penduduk
Yusuf dan Maria, yang dalam gereja Katolik dikenal sebagai Santo Yosep dan Bunda Maria, orang tua Yesus, mereka datang ke Bethlehem Yudea untuk mengikuti sensus Pemerintah Romawi (Lukas 2: 1-5). Kala itu semua orang mesti pulang kampung ke kota asalnya masing-masing untuk mendaftarkan diri. Sekali lagi, jelas tidak mungkin sensus semacam itu dilaksanakan di suatu musim dingin. Pada bulan Desember di Bethlehem Yudea suhu udara sangat rendah, sangat dingin menusuk tulang, cuaca membeku dan kondisi jalan-jalan tak bisa dilewati kereta kuda. Melakukan sensus dalam kondisi cuaca seperti itu hanya membuang-buang waktu dan tak mungkin. Peristiwa sensus dan kelahiran Yesus itu jelas tidak mungkin terjadi di bulan Desember.
Kelahiran Yohanes Pembaptis
Kita bisa memperkirakan hari kelahiran Yesus dengan menghubungkannya dengan waktu kehamilan Elizabeth, ibu Yohanes Pembaptis. Ketika Yesus mulai dikandung oleh Perawan Maria, kehamilan Elizabeth masuk hitungan enam bulan (Lukas 1: 24-27). Maka untuk mengetahui waktu kelahiran Yesus, kita perlu mengetahui kapan Yohanes lahir.Ayah Yohanes, yaitu Zakaria adalah imam yang melayani di Yerusalem bersama-sama rombongan Abia (Lukas 1: 5) Perhitungan sejarah menunjukkan bahwa pelayanan ini berlangsung sekitar 13-19 Juni tahun itu (The Companion Bible, 1974). Saat itulah Zakaria diberitahu oleh malaikat bahwa istrinya akan mengandung (Lukas 1: 8-13, 23-24). Jika kehamilan itu dimulai pada akhir Juni, dengan hitungan masa kandungan sembilan bulan, kemungkinan Yohanes Pembaptis lahir sekitar bulan Maret. Dengan menambahkan 5-6 bulan (selisih waktu kehamilan Maria dan Elizabeth), maka kemungkinannya Yesus lahir sekitar bulan Agustus atau September, masa musim gugur di Yudea.
Kapan tepatnya Yesus lahir? Alkitab dan sejarah memang tidak menjelaskan dengan pasti tentang tanggal kelahiran Yesus. Tampaknya hari kelahiran Yesus dianggap oleh penulis Injil sebagai suatu hal yang tidak penting diketahui atau dirayakan, sebagaimana orang Yahudi sampai masa itu tidak punya kebiasaan merayakan hari lahir. Tidak tercatatnya hari lahir Yesus juga punya dampak positif menghindarkan kemungkinan terjadinya kultus; meskipun ternyata akhirnya didistorsi juga oleh tradisi Barat, yang memboncengkan kepentingannya, sehingga menciptakan peng-kultus-an juga akhirnya.
Dari Mana Asalnya tanggal 25 Desember?
Dari berbagai sumber terpercaya, bisa kita temukan bahwa sebenarnya tanggal 25 Desember berasal dari tradisi perayaan agama pagan "Kafir". The World Book Encyclopedia mencatat: Orang-orang Roma merayakan hari lahir Dewa Matahari, 25 Desember.
Romo Eko Budi Susilo, Pr, Pastor Paroki Aloysius Gonzaga pernah mengakui: "Tanggal 25 Desember sebenarnya dirayakan oleh bangsa Romawi sebagai hari Dewa Matahari. Tetapi kemudian gereja (Katolik) membaptis tanggal itu untuk peringatan kepada Yesus." Kenapa? karena pimpinana gereja Katolik Roma tersebut adalah keturunan bangsa Romawi mantan penganut Pagan yang masih belum rela tradisi nenek moyangnya musnah, karena itu ia mengadopsi tanggal kelahiran Dewa mereka sebagai tanggal kelahiran Yesus.
Sehingga sesungguhnya pimpinan gereja itu telah mengecoh seluruh umat Kristen sedunia untuk memperingati Dewa-nya tanpa umat menyadarinya! Banyak gereja telah sepakat bahwa sejarah ditetapkannya hari Natal pada 25 Desember serupa dengan sejarah ditetapkannya hari Minggu sebagai hari ibadah rutin umat Kristen. Padahal dalam Alkitab dengan jelas Tuhan memerintahkan umatNya untuk memuliakan dan berdoa pada hari Sabat/ Sabtu (Keluaran 20: 8-11 dan Ibrani 4: 1-11).
Tapi tampaknya dengan berkompromi mewarisi ajaran Pagan 'kafir', gereja Katolik Roma mengganti Sabat/Sabtu dengan Minggu (hari Pertama). Minggu berasal dari sebutan Sun-Day (Hari Matahari), dan hari ini dikhususkan orang-orang Roma untuk Dewa Matahari. Demikian juga Natal, yang mulai dirayakan pada abad ke-4 sampai sekarang, berasal dari tradisi Pagan Eropa yang merupakan hari kelahiran Dewa Matahari, dewa 'kafir' Yunani dan Romawi.
Sesungguhnya banyak orang yang sudah lama mengetahui dan mengakui bahwa Natal adalah bukan berasal dari Alkitab, melainkan dari tradisi kekafiran. Oleh karena itu, konon di abad ke-17 (masa Renaissance) di beberapa negara koloni Amerika dan Inggris, perayaan Natal sempat dilarang! Bahkan siapa saja yang merayakan Natal harus membayar denda pelanggaran hukum. Tapi beberapa tahun kemudian, tradisi kafir itu kembali kambuh merajalela hingga kini, bahkan menyebar keseluruh dunia sebagai tradisi keagamaan yang bahkan dilestarikan dengan alasan sebagai aset budaya dan pariwisata; sehingga kemasannya pun makin berkembang dengan berbagai pernak-pernik (pohon cemara, sinterklas, dsb) dan dongeng (Piet Hitam, kereta kuda terbang, dsb) yang bahkan di negeri asalnya [negeri tempat Yesus dilahirkan] tak pernah ada! Bagaimana pun Natal bersumber dari ajaran kafir dan tidak Alkitabiah, maka kini di berbagai negara banyak sekali orang-orang Kristen yang taat kepada Alkitab lebih memilih untuk tidak lagi merayakan hari kelahiran Yesus yang palsu itu.
Dalam Injil Lukas 2: 8-11, pada waktu Yesus dilahirkan di Bethlehem Yudea, sebelum malaikat datang dan mengabarkan berita kelahiran Yesus, para gembala kala itu keluar membawa ternak mereka ke padang terbuka selama berhari-hari. Cuaca bulan Desember di Yudea sangat dingin dan berhujan lebat, apakah mungkin mereka menggembalakan ternaknya di padang terbuka pada musim dingin yang berhujan lebat seperti itu? Jelas tak mungkin, bukan?
Keterangan dari Injil Lukas tersebut menggambarkan situasi musim panas atau awal musim gugur, saat cuaca cerah dan juga gerah pada waktu malam, sehingga hewan-hewan perlu dilepas ke luar kandang. Pemahaman berdasarkan Injil Lukas ini setidaknya menegaskan bahwa tidak mungkin Yesus lahir di bulan Desember.
Sensus Penduduk
Yusuf dan Maria, yang dalam gereja Katolik dikenal sebagai Santo Yosep dan Bunda Maria, orang tua Yesus, mereka datang ke Bethlehem Yudea untuk mengikuti sensus Pemerintah Romawi (Lukas 2: 1-5). Kala itu semua orang mesti pulang kampung ke kota asalnya masing-masing untuk mendaftarkan diri. Sekali lagi, jelas tidak mungkin sensus semacam itu dilaksanakan di suatu musim dingin. Pada bulan Desember di Bethlehem Yudea suhu udara sangat rendah, sangat dingin menusuk tulang, cuaca membeku dan kondisi jalan-jalan tak bisa dilewati kereta kuda. Melakukan sensus dalam kondisi cuaca seperti itu hanya membuang-buang waktu dan tak mungkin. Peristiwa sensus dan kelahiran Yesus itu jelas tidak mungkin terjadi di bulan Desember.
Kelahiran Yohanes Pembaptis
Kita bisa memperkirakan hari kelahiran Yesus dengan menghubungkannya dengan waktu kehamilan Elizabeth, ibu Yohanes Pembaptis. Ketika Yesus mulai dikandung oleh Perawan Maria, kehamilan Elizabeth masuk hitungan enam bulan (Lukas 1: 24-27). Maka untuk mengetahui waktu kelahiran Yesus, kita perlu mengetahui kapan Yohanes lahir.Ayah Yohanes, yaitu Zakaria adalah imam yang melayani di Yerusalem bersama-sama rombongan Abia (Lukas 1: 5) Perhitungan sejarah menunjukkan bahwa pelayanan ini berlangsung sekitar 13-19 Juni tahun itu (The Companion Bible, 1974). Saat itulah Zakaria diberitahu oleh malaikat bahwa istrinya akan mengandung (Lukas 1: 8-13, 23-24). Jika kehamilan itu dimulai pada akhir Juni, dengan hitungan masa kandungan sembilan bulan, kemungkinan Yohanes Pembaptis lahir sekitar bulan Maret. Dengan menambahkan 5-6 bulan (selisih waktu kehamilan Maria dan Elizabeth), maka kemungkinannya Yesus lahir sekitar bulan Agustus atau September, masa musim gugur di Yudea.
Kapan tepatnya Yesus lahir? Alkitab dan sejarah memang tidak menjelaskan dengan pasti tentang tanggal kelahiran Yesus. Tampaknya hari kelahiran Yesus dianggap oleh penulis Injil sebagai suatu hal yang tidak penting diketahui atau dirayakan, sebagaimana orang Yahudi sampai masa itu tidak punya kebiasaan merayakan hari lahir. Tidak tercatatnya hari lahir Yesus juga punya dampak positif menghindarkan kemungkinan terjadinya kultus; meskipun ternyata akhirnya didistorsi juga oleh tradisi Barat, yang memboncengkan kepentingannya, sehingga menciptakan peng-kultus-an juga akhirnya.
Dari Mana Asalnya tanggal 25 Desember?
Dari berbagai sumber terpercaya, bisa kita temukan bahwa sebenarnya tanggal 25 Desember berasal dari tradisi perayaan agama pagan "Kafir". The World Book Encyclopedia mencatat: Orang-orang Roma merayakan hari lahir Dewa Matahari, 25 Desember.
Romo Eko Budi Susilo, Pr, Pastor Paroki Aloysius Gonzaga pernah mengakui: "Tanggal 25 Desember sebenarnya dirayakan oleh bangsa Romawi sebagai hari Dewa Matahari. Tetapi kemudian gereja (Katolik) membaptis tanggal itu untuk peringatan kepada Yesus." Kenapa? karena pimpinana gereja Katolik Roma tersebut adalah keturunan bangsa Romawi mantan penganut Pagan yang masih belum rela tradisi nenek moyangnya musnah, karena itu ia mengadopsi tanggal kelahiran Dewa mereka sebagai tanggal kelahiran Yesus.
Sehingga sesungguhnya pimpinan gereja itu telah mengecoh seluruh umat Kristen sedunia untuk memperingati Dewa-nya tanpa umat menyadarinya! Banyak gereja telah sepakat bahwa sejarah ditetapkannya hari Natal pada 25 Desember serupa dengan sejarah ditetapkannya hari Minggu sebagai hari ibadah rutin umat Kristen. Padahal dalam Alkitab dengan jelas Tuhan memerintahkan umatNya untuk memuliakan dan berdoa pada hari Sabat/ Sabtu (Keluaran 20: 8-11 dan Ibrani 4: 1-11).
Tapi tampaknya dengan berkompromi mewarisi ajaran Pagan 'kafir', gereja Katolik Roma mengganti Sabat/Sabtu dengan Minggu (hari Pertama). Minggu berasal dari sebutan Sun-Day (Hari Matahari), dan hari ini dikhususkan orang-orang Roma untuk Dewa Matahari. Demikian juga Natal, yang mulai dirayakan pada abad ke-4 sampai sekarang, berasal dari tradisi Pagan Eropa yang merupakan hari kelahiran Dewa Matahari, dewa 'kafir' Yunani dan Romawi.
Sesungguhnya banyak orang yang sudah lama mengetahui dan mengakui bahwa Natal adalah bukan berasal dari Alkitab, melainkan dari tradisi kekafiran. Oleh karena itu, konon di abad ke-17 (masa Renaissance) di beberapa negara koloni Amerika dan Inggris, perayaan Natal sempat dilarang! Bahkan siapa saja yang merayakan Natal harus membayar denda pelanggaran hukum. Tapi beberapa tahun kemudian, tradisi kafir itu kembali kambuh merajalela hingga kini, bahkan menyebar keseluruh dunia sebagai tradisi keagamaan yang bahkan dilestarikan dengan alasan sebagai aset budaya dan pariwisata; sehingga kemasannya pun makin berkembang dengan berbagai pernak-pernik (pohon cemara, sinterklas, dsb) dan dongeng (Piet Hitam, kereta kuda terbang, dsb) yang bahkan di negeri asalnya [negeri tempat Yesus dilahirkan] tak pernah ada! Bagaimana pun Natal bersumber dari ajaran kafir dan tidak Alkitabiah, maka kini di berbagai negara banyak sekali orang-orang Kristen yang taat kepada Alkitab lebih memilih untuk tidak lagi merayakan hari kelahiran Yesus yang palsu itu.
Label:
25 Desember,
Jesus,
Natal,
Noel,
Yesus
Rabu, 27 April 2011
Tuhan bangun dari tidurnya
Percaya kepada Tuhan, adalah merupakan naluri fitrah (murni/asli) dan universal.
Percaya pada Tuhan telah menjadi sifat alami manusia. Selama manusia hidup di bumi, pengetahuan tentang Tuhan Yang Maha Kuasa juga akan ada. Seperti yang dikatakan oleh Profesor Max Fuller dalam perkuliahan Hibbert-nya:
"Agama bukanlah sebuah temuan baru. Agama, meskipun mungkin tidak sama tuanya dengan dunia, tapi setidaknya sama tuanya dengan dunia yang kita ketahui saat ini. Tuhan tidak pernah salah, dan agamapun tidak pernah salah; namun manusia bisa salah dalam melihat dan memahaminya, yang disebabkan karena terjadinya berbagai distorsi (pembacaan) sejarah yang sampai kepada pembacaan para pemeluknya. Semua agama memiliki tujuan yang sama pada saat diturunkan, namun proses perjalanan sepanjang sejarah itulah yang membuatnya berubah (distorted). Semua bertujuan sama, dimaksudkan untuk menghubungkan langit dan bumi, yang dipegang oleh 'tangan' yang sama."
Ini benar-benar merupakan sikap yang sangat terbuka, betul-betul pernyataan yang fitriah. Sebagaimana juga telah tercantum dalam kitab suci-Nya:
"Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan." (QS Fathir:24)
"Dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi mereka petunjuk." (QS Ra'd:7)
Tuhan Tidak Parsial
Jika Tuhan Yang Maha Kuasa bukan merupakan bagian dari makhluk-Nya bila dikaitkan dengan rahmat materialnya seperti --udara, hujan, cahaya matahari, dan sebagainya, lalu mengapa Tuhan menjadi bagian atau bersifat parsial jika dikaitkan dengan rahmat spiritualnya (petunjuk-Nya?). Tuhan tidak bersifat parsial! Tidak ada negara atau kelompok bahasa di bumi yang tidak mengetahui Tuhan melalui nama-nama-Nya. Pengetahuan ini dibuat oleh Penciptanya sendiri melalui bibir pembawa pesan terpilih-Nya. Nama-nama pembawa pesan ini telah kita ketahui, dan nama-nama yang lainnya hilang atau masuk dalam kategori tahayul.
Meskipun seluruh teologi (pengetahuan tentang Tuhan) berasal dari Tuhan, manusia memainkan peran dalam konsep-konsep murni dan suci tersebut, dengan menambahkan berbagai tambahan kecil yang tidak membutuhkan hal-hal lain --tambahan ini merampok bahasa. Dalam kalimat Mrs. Ellen G. White, seorang 'nabi' dari Gerakan Adventis Hari ke-7, dalam kajian Bible-nya, mengatakan:
"Manusia terpelajar dalam beberapa hal telah merubah kalimat, berpikir bahwa mereka membuatnya lebih jelas, padahal kenyataannya mereka mengaburkan apa yang sebenarnya telah jelas."
Dalam jurnal agama dunia 'Watchtower', beberapa tulisan orang Yahudi dan Kristen menunjukkan beberapa 'gambaran grafis & visual' dalam Injil yang menunjukkan Tuhan dari kacamata manusia sendiri.
Deskripsi yang tidak sempurna tentang Tuhan (yang seharusnya digambarkan sempurna):
Tuhan seperti makhluk (digambarkan seperti burung/ sesuatu yang terbang)
"Dan Tuhan turun untuk melihat kota dan menara yang dibangun oleh anak-anak manusia." (Kejadian 11:5)
Musa melihat punggung Tuhan (digambarkan seperti makhluk/ manusia):
"Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan." (Kejadian 33:23)
Tuhan bergulat dengan Jakob (digambarkan seperti makhluk/ manusia), dan Tuhan kalah!:
"Lalu kata orang itu, "Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israil, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia dan engkau menang." (Kejadian 32:28)
Tuhan tidur(!) dan seperti orang mabuk:
"Lalu Tuhan bangun dari tidurnya, dan seperti penguasa yang berteriak-teriak karena pengaruh anggur." (Psalm 78:65)
Tuhan menyesal menciptakan manusia:
"Maka menyesallah Tuhan karena Ia telah menciptakan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya." (Kejadian 6:6)
Tuhan mencium bau wangi:
"Ketika Tuhan mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah Tuhan dalam hati-Nya..." (Kejadian 8:21)
Tuhan seperti seekor singa yang sedang mendekam:
"Dia mendekam dan merebahkan diri seperti singa jantan, dan seperti singa betina, siapakah yang berani membangunkannya?" (Bilangan 24:9)
Pandangan Tuhan seperti api yang sangat kuat:
"Tampaknya kemuliaan Tuhan seperti api yang menghanguskan di puncak gunung itu pada pemandangan orang Israil." (Keluaran 24:17)
Tuhan beristirahat dan segar kembali:
"... dalam enam hari, Tuhan membuat surga dan bumi, dan pada hari ke tujuh, Dia beristirahat dan SEGAR KEMBALI." (Keluaran 31:17)
Di luar 73 buku ensiklopedi Katolik Roma dan 66 Buku Protestan yang disebut "Bible", sejumlah cuplikan tanpa batas bisa ditarik untuk mengisi sebuah buku yang lebih besar dan publikasi ini untuk menggambarkan beberapa deskripsi tak sempurna mengenai Tuhan yang dibuat oleh manusia.
Dalam aspek spirit, tidak ada negara manapun yang memiliki kesempatan sebesar anak-anak Israel. Meskipun telah berulang-ulang diperingatkan: "Tuhanmu adalah Tuhan yang cemburuan, Dia tidak ada yang mendahului, DIA TIDAK SUKA (SERUPA/BERSERUPA/DISERUPAKAN) TERHADAP HAL-HAL YANG ADA DI BUMI ATAU DI SURGA, ATAU DI AIR BAWAH LAUT..." (Keluaran 20:3-5), tapi mereka tetap membuat lembu emas untuk disembah, dan selalu menjadikannya sebagai sembahan.
Dan penganut Kristen tidak terbebas dari noda ini. Kunjungilah St. Paul's Cathedral di London, atau St. Peter's Cathedral di Roma, dan anda tidak akan mampu membedakannya dengan Kuil Somnath di India. Ini merupakan sebuah pertanyaan dari Tweedle Dum dan Tweedle Dee. Anda tidak harus pergi ke Inggris atau Itali untuk membuktikan pertanyaan ini. Mengapa anda tidak memeriksa Katedral Katolik Anglikan atau Roma dari kota anda sendiri?
- Somnath Temple Dome
- Somnath Temple Cow
- St Paul Cathedral Dome
- St Paul Cathedral London
- Catholic Anglican Cathedral
Percaya pada Tuhan telah menjadi sifat alami manusia. Selama manusia hidup di bumi, pengetahuan tentang Tuhan Yang Maha Kuasa juga akan ada. Seperti yang dikatakan oleh Profesor Max Fuller dalam perkuliahan Hibbert-nya:
"Agama bukanlah sebuah temuan baru. Agama, meskipun mungkin tidak sama tuanya dengan dunia, tapi setidaknya sama tuanya dengan dunia yang kita ketahui saat ini. Tuhan tidak pernah salah, dan agamapun tidak pernah salah; namun manusia bisa salah dalam melihat dan memahaminya, yang disebabkan karena terjadinya berbagai distorsi (pembacaan) sejarah yang sampai kepada pembacaan para pemeluknya. Semua agama memiliki tujuan yang sama pada saat diturunkan, namun proses perjalanan sepanjang sejarah itulah yang membuatnya berubah (distorted). Semua bertujuan sama, dimaksudkan untuk menghubungkan langit dan bumi, yang dipegang oleh 'tangan' yang sama."
Ini benar-benar merupakan sikap yang sangat terbuka, betul-betul pernyataan yang fitriah. Sebagaimana juga telah tercantum dalam kitab suci-Nya:
"Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan." (QS Fathir:24)
"Dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi mereka petunjuk." (QS Ra'd:7)
Tuhan Tidak Parsial
Jika Tuhan Yang Maha Kuasa bukan merupakan bagian dari makhluk-Nya bila dikaitkan dengan rahmat materialnya seperti --udara, hujan, cahaya matahari, dan sebagainya, lalu mengapa Tuhan menjadi bagian atau bersifat parsial jika dikaitkan dengan rahmat spiritualnya (petunjuk-Nya?). Tuhan tidak bersifat parsial! Tidak ada negara atau kelompok bahasa di bumi yang tidak mengetahui Tuhan melalui nama-nama-Nya. Pengetahuan ini dibuat oleh Penciptanya sendiri melalui bibir pembawa pesan terpilih-Nya. Nama-nama pembawa pesan ini telah kita ketahui, dan nama-nama yang lainnya hilang atau masuk dalam kategori tahayul.
Meskipun seluruh teologi (pengetahuan tentang Tuhan) berasal dari Tuhan, manusia memainkan peran dalam konsep-konsep murni dan suci tersebut, dengan menambahkan berbagai tambahan kecil yang tidak membutuhkan hal-hal lain --tambahan ini merampok bahasa. Dalam kalimat Mrs. Ellen G. White, seorang 'nabi' dari Gerakan Adventis Hari ke-7, dalam kajian Bible-nya, mengatakan:
"Manusia terpelajar dalam beberapa hal telah merubah kalimat, berpikir bahwa mereka membuatnya lebih jelas, padahal kenyataannya mereka mengaburkan apa yang sebenarnya telah jelas."
Dalam jurnal agama dunia 'Watchtower', beberapa tulisan orang Yahudi dan Kristen menunjukkan beberapa 'gambaran grafis & visual' dalam Injil yang menunjukkan Tuhan dari kacamata manusia sendiri.
Deskripsi yang tidak sempurna tentang Tuhan (yang seharusnya digambarkan sempurna):
Tuhan seperti makhluk (digambarkan seperti burung/ sesuatu yang terbang)
"Dan Tuhan turun untuk melihat kota dan menara yang dibangun oleh anak-anak manusia." (Kejadian 11:5)
Musa melihat punggung Tuhan (digambarkan seperti makhluk/ manusia):
"Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan." (Kejadian 33:23)
Tuhan bergulat dengan Jakob (digambarkan seperti makhluk/ manusia), dan Tuhan kalah!:
"Lalu kata orang itu, "Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israil, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia dan engkau menang." (Kejadian 32:28)
Tuhan tidur(!) dan seperti orang mabuk:
"Lalu Tuhan bangun dari tidurnya, dan seperti penguasa yang berteriak-teriak karena pengaruh anggur." (Psalm 78:65)
Tuhan menyesal menciptakan manusia:
"Maka menyesallah Tuhan karena Ia telah menciptakan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya." (Kejadian 6:6)
Tuhan mencium bau wangi:
"Ketika Tuhan mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah Tuhan dalam hati-Nya..." (Kejadian 8:21)
Tuhan seperti seekor singa yang sedang mendekam:
"Dia mendekam dan merebahkan diri seperti singa jantan, dan seperti singa betina, siapakah yang berani membangunkannya?" (Bilangan 24:9)
Pandangan Tuhan seperti api yang sangat kuat:
"Tampaknya kemuliaan Tuhan seperti api yang menghanguskan di puncak gunung itu pada pemandangan orang Israil." (Keluaran 24:17)
Tuhan beristirahat dan segar kembali:
"... dalam enam hari, Tuhan membuat surga dan bumi, dan pada hari ke tujuh, Dia beristirahat dan SEGAR KEMBALI." (Keluaran 31:17)
Di luar 73 buku ensiklopedi Katolik Roma dan 66 Buku Protestan yang disebut "Bible", sejumlah cuplikan tanpa batas bisa ditarik untuk mengisi sebuah buku yang lebih besar dan publikasi ini untuk menggambarkan beberapa deskripsi tak sempurna mengenai Tuhan yang dibuat oleh manusia.
Dalam aspek spirit, tidak ada negara manapun yang memiliki kesempatan sebesar anak-anak Israel. Meskipun telah berulang-ulang diperingatkan: "Tuhanmu adalah Tuhan yang cemburuan, Dia tidak ada yang mendahului, DIA TIDAK SUKA (SERUPA/BERSERUPA/DISERUPAKAN) TERHADAP HAL-HAL YANG ADA DI BUMI ATAU DI SURGA, ATAU DI AIR BAWAH LAUT..." (Keluaran 20:3-5), tapi mereka tetap membuat lembu emas untuk disembah, dan selalu menjadikannya sebagai sembahan.
Dan penganut Kristen tidak terbebas dari noda ini. Kunjungilah St. Paul's Cathedral di London, atau St. Peter's Cathedral di Roma, dan anda tidak akan mampu membedakannya dengan Kuil Somnath di India. Ini merupakan sebuah pertanyaan dari Tweedle Dum dan Tweedle Dee. Anda tidak harus pergi ke Inggris atau Itali untuk membuktikan pertanyaan ini. Mengapa anda tidak memeriksa Katedral Katolik Anglikan atau Roma dari kota anda sendiri?
- Somnath Temple Dome
- Somnath Temple Cow
- St Paul Cathedral Dome
- St Paul Cathedral London
- Catholic Anglican Cathedral
Kamis, 21 April 2011
Aku dan Bapa adalah satu
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." -Yohanes 3: (16)
"Aku dan Bapa adalah satu." -Yohanes 10: (30)
------------
Ayat inilah yang menyesatkan orang dan banyak digunakan untuk menyesatkan asumsi, karena dikunyah mentah-mentah tanpa bahasan konteksnya.
Begini konteksnya:
Deedat pernah mengajak Pendeta Morris D.D dan istrinya untuk makan siang bersama di "Golden Peacock". Saat diskusi untuk menanyakan dimana makan siang tersebut, Deedat bertanya, "di mana?" Dan tanpa ragu Pendeta Morris menjawab dengan sebuah kutipan Injl, SAYA DAN AYAH SAYA ADALAH SATU" -- untuk mengisyaratkan bahwa Tuhan dan Yesus adalah satu dan merupakan diri yang sama. Pada ayat tersebut Yesus tidak mengklaim sebagai Tuhan. Ayat yang dikutip tersebut sudah sangat ia (Deedat) kenal, tapi yang dikutip tersebut, lepas dari konteks bila tak membacanya dari awal. Kemudian Deedat menanyakan kepada pendeta "Apa konteksnya?"
KONTEKSLAH YANG MEMPERJELAS MAKNA TEKS
Pendeta tersebut berhenti makan dan mulai menatap Deedat, "Mengapa? Apakah Anda tidak tahu konteksnya?"tanya Deedat - "Anda tahu kalau apa yang baru saja saya dengarkan adalah teksnya, tetapi bagaimana dengan konteksnya? teks yang menyertainya, sebelum dan sesudahnya?" Pendeta Morris adalah seseorang yang sehari-hari menggunakan bahasa Inggris (ia orang Kanada), seorang pelayan gereja di Presbyterian Church, seorang yang bergelar Doctor of Divinity, dan sepertinya pada saat itu Deedat sedang mengajarinya bahasa Inggris. Tapi Morris tentunya paham dengan apa yang dimaksud dengan "konteks". Tapi sebagaimana para compatriot yang lain, ternyata Morris memang belum mempelajari pada situasi apa Yesus mengutarakan kata-kata tersebut.
Selama lebih dari empat puluh tahun pergaulan Deedat dengan para pendeta yang mengajar di Johannesburg, Cape Town, dan berbagai kota lain di Afrika, kata-kata ini telah beratus-ratus atau bahkan ribuan kali dikatakan orang kepadanya, tapi tidak seorangpun Kristen berpendidikan yang berani mencoba menebak arti kata aslinya. Mereka selalu kembali untuk meraba-raba Bibel mereka. Pada saat itu Doktor Morris sedang tidak membawa Bibelnya. Biasanya ketika mereka mencoba membuka Bibelnya, Deedat mencoba menahannya sambil bertanya, "Tentunya anda tahu apa yang baru saja Anda kutip bukan?" "Tentunya anda sudah kenal dengan Bibel anda bukan?". Setelah membaca ini semoga akan ada beberapa orang Kristen "terlahir kembali" yang paham kekurang-pahaman mereka dengan arti kata terhadap konteks asli yang dimaksud dari ayat ini.
BAGAIMANA KONTEKSNYA?
Sepertinya pendeta Morris telah bertindak tidak adil karena setelah dia tidak mampu menjawab pertanyaan Deedat tentang konteks tersebut kemudian dia malah bertanya kepada Deedat (padahal dia seorang pendeta, sedangkan Deedat seorang muslim), pendeta Morris bertanya, "Apakah anda tahu bagaimana konteksnya?" "Tentu saja" jawab Deedat. "Lalu bagaimana?" lanjut pendeta Morris. Deedat melanjutkan, "Kata-kata yang telah anda kutip tersebut merupakan teks dari Yohanes bab 10 ayat 30. Untuk bisa menemukan konteksnya kita HARUS MULAI membaca dari ayat 23 dahulu, yang berbunyi: "Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Solomo" (Yoh 10:23).
Yohanes, atau siapapun yang menulis kisah ini, tidak mengungkapkan alasan mengapa Yesus berani menghadapi orang-orang yang berbuat maksiat di dalam Bait Suci itu. Dalam Bait Suci itu didapatinya pedagang=pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka, uang penukar-penukar dihamburkannya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan. Padahal kita tahu, orang Yahudi akan kehilangan kesempatan emas untuk bisa bersama dengan Yesus. Mungkin ia terdorong oleh rasa amarah sehingga dia berani melakukan semua itu pada awal pemerintahannya (Yohanes 2:15)
"Maka orang-orang Yahudi mengelilinginya dan berkata kepadanya, "Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias katakanlah terus terang kepada kami." (Yoh 10:24)
Mereka mengerumuni Yesus. Mengacungkan telunjuk mereka ke muka Yesus, menuduh dan memprovokasi dengan cara mengatakan bahwa dia tidak mengatakan segalanya dengan jelas, dan langsung pada inti permasalahan. Bahwa dia telah memberikan ambiguitas. Mereka mulai melakukan hal-hal gila untuk menyerangnya. Sebenarnya apa yang mereka tidak sukai dari Yesus adalah dalam hal cara pengajaran yang dilakukannya, umpatan, ungkapan yang digunakan oleh Yesus untuk menyalahkan mereka atas formalisme mereka, ceremonalisme, dan hukum yang mereka buat atas nama agama, namun mengabaikan spirit beragama. Tapi Yesus tidak bisa memprovokasi lebih jauh - jumlah mereka terlalu banyak dan mereka sangat ingin berkelahi. Kebijaksanaan adalah hal yang lebih baik daripada keberanian. Dalam sebuah spirit perdamaian untuk memperbaiki keadaan.
"Yesus menjawab mereka, "Aku telah mengatakannya kepadamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang kulakukan dalam nama Bapaku, itulah yang memberikan kesaksian tentang aku." (Yoh:25)
"Tetapi kamu tidak percaya karena kamu tidak termasuk domba-dombaku (Yahudi tetapi lain suku dengan Yesus/ Bunda Maria)." (Yoh:25)
Yesus membantah fitnah yang dilancarkan oleh para musuhnya yang menyatakan bahwa dia telah mengutarakan kata-kata ambigu dengan mengatakan bahwa dia adalah Al-Masih yang sudah lama mereka nantikan. Yesus berkata bahwa dia telah menyampaikan hal tersebut kepada mereka dengan cukup jelas, namun mereka tidak mau mendengar, tapi:
"Domba-dombaku akan mendengar apa kataku, dan saya mengenal mereka (domba-domba), dan mereka akan mengikutiku." (Yoh:27)
"Dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan MEREBUT MEREKA DARI TANGANKU." (Yoh:28)
"Bapaku, yang memberikan mereka kepadaku, lebih besar daripada siapa pun dan seorangpun tidak dapat MEREBUT MEREKA DARI TANGAN BAPA." (Yoh:29)
Bagaimana semua orang bisa menjadi begitu buta sehingga tidak pernah melihat BAGIAN AKHIR dari dua ayat terakhir tersebut. Tapi orang yang berkedip secara spiritual akan lebih tahan terhadap kecaman ketimbang orang yang mengalami cacat fisik. Dia memberi tahu orang-orang Yahudi dan membuat rekaman untuk anak-cucunya, kesatuan atau hubungan yang nyata antara Bapak dan Anak. Ayat yang paling krusial.
"Aku dan Bapa adalah Satu" (Yoh:30)
Satu dalam hal apa? Dalam hal kemahatahuan? Dalam hal Alam? Dalam hal Kemahakuasaan? Tidak! Bahwa ketika seorang yang beriman sudah menerima keyakinan, maka Rasul akan menyempurnakannya sehingga keyakinan tersebut bisa tetap menjadi keyakinan. Ini adalah tujuan dari "Bapak" DAN "anak" DAN "Dzat Suci" DAN keyakinan setiap lelaki DAN perempuan. Biarkan Yohannes sendiri yang akan menjelaskan kata-kata mistik Gnostic tak berguna yang telah dibuatnya sendiri.
Bahwa keduanya bisa jadi adalah SATU: bisa menjadi SEPERTI. Bapak berada dalam diriku dan aku berada dalam diri kalian, sehingga keduanya juga bisa jadi SATU dalam diri kita-kita. Saya dalam diri mereka, dan engkau berada dalam diriku, sehingga mereka menjadi sama dalam KESATUAN.
"Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia." (Yoh 17:18)
"dan Aku mensucikan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun disucikan dalam kebenaran." (Yoh 17:19)
"supaya mereka semua menjadi satu, sama SEPERTI Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka JUGA di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." (Yoh 17:21)
"Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu." (Yoh 17:22)
"Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku." (Yoh 17:23)
Jika Yesus adalah "SATU" dengan Tuhan, dan jika bahwa "KESATUAN" bisa menjadikannya sebagai Tuhan, maka Judas sang penghianat, dan Thomas yang peragu, dan Petrus sang penganut setan, ditambah sembilan orang lagi yang meninggalkan Yesus saat dia sangat membutuhkan (satu/banyak) Tuhan, karena KESATUAN yang sama pernah diklaim oleh mereka bahwa mereka menyertai Tuhan (seperti dalam Yohanes 10:30), sekarang diklaim sebagai SEMUA "yang meninggalkannya dan melarikan diri" (Markus 14:50) - Semua "yang lemah imannya" (Matius 8:26) - SEMUA "generasi yang tak yakin dan menentang" (Lukas 9:41).
Sampai di mana dan sampai kapankah pemfitnahan orang Kristen terhadap Yesus berakhir? Ungkapan "Aku dan Bapa adalah satu", bukan ungkapan yang salah, yang artinya TIDAK LEBIH DARI SEKEDAR ADANYA KESATUAN TUJUAN BERSAMA (YANG SAMA) DENGAN TUHAN. Tapi orang-orang Yahudi mencari masalah dan melakukan sesuatu yang tidak akan dilakukan oleh siapapun.
"Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus." (Yoh 10:31)
"Yesus berkata kepada mereka: "Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapakku yang telah kutunjukkan kepada kalian; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kalian melempariku?" (Yoh 10:32)
"Orang Yahudi menjawab: "Kami melemparimu bukan karena pekerjaan yang baik itu, tetapi karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah." (Yoh 10:33)
Dalam ayat 24 di atas orang-orang Yahudi menuduh secara salah bahwa Yesus berkata ambigu. Ketika tuduhan itunbisa disangkal, mereka kemudian menuduhnya telah berbuat kufur yaitu menyerupakan dirinya dengan Allah. Karena itu mereka menuduh bahwa Yesus telah mengklaim dirinya sebagai Tuhan - "Aku dan Bapakku adalah satu". Orang-orang Kristen sepakat dengan orang-orang Yahudi dalam hal ini, bahwa Yesus memang benar-benar mengatakan hal tersebut; tapi, berbeda, dalam pengertian. Orang Kristen berpendapat bahwa hal tersebut bukanlah kufur karena orang-orang Kristen mengatakan bahwa dia (Yesus) adalah Tuhan dan telah dibebaskan untuk mendapatkan Divinitasnya.
Orang-orang Kristen dan Yahudi sama-sama sepakat bahwa pernyataan tersebut adalah serius. Yang satu dengan alasan untuk mendapatkan "penebusan dosa", dan satunya dengan alasan untuk mendapatkan "penghapusan dosa". Di antara kedua hal tersebut, maka biarlah Yesus mati. Tapi Yesus menolak untuk bekerja sama dalam permainan kotor ini:
"Yesus berkata kepada mereka: "Tidakkah ada tertulis dalam kitab hukummu: Aku telah berkata, "Kamu adalah tuhan-tuhan?" (Yoh 10:34)
"Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah--sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan--, (Yoh 10:35)
"masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?" (Yoh 10:36)
Mengapa "Hukummu"?
Dia adalah seorang yang sedikit sarkastik seperti yang dinyatakan dalam ayat 34, tetapi dalam semua event, mengapa dia berkata: "Hukummu?"
Bukankah itu juga hukumnya? Bukankah dia berkata: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya." (Matius 5:17) "Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi." (Matius 5:18)
"Kamu adalah Allah-Allah"
"Kamu adalah Allah-Allah (gods)" Dia mengutipnya dari Mazmur 82 (ayat 6) - "Aku sendiri telah berfirman, "KAMU ADALAH ALLAH-ALLAH, dan kalian semua adalah anak-anak Allah Yang Maha Tinggi." (Mazmur 82:6)
Yesus melanjutkan, "Jika Dia (yakni Tuhan Yang Maha Kuasa) menyebut mereka Allah, kepada siapa firman itu disampaikan, - sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan.. (dengan kata lain - KALIAN TIDAK BOLEH MENENTANGKU!) -- Yesus tahu kitab Injilnya; dia berbicara dengan otoritas; dan dia mengungkapkan alasan kepada para musuhnya bahwa "Jika orang baik, orang suci, dan rasul-rasul Tuhan disebut dengan "ALLAH-ALLAH" (gods) dalam Kitab Suci kita, yang anda temukan tidak ada kesalahan di dalamnya - lantas mengapa kalian membuat pengecualian kepadaku? -- Padahal yang saya katakan terhadap diri saya adalah jauh lebih kecil dalam bahasa kami, yaitu "anak Allah" sedangkan yang lain disebut "ALLAH-ALLAH" oleh Allah itu sendiri. Bahkan jika aku (Yesus) menyebutku sebagai "allah" dalam bahasa kita, menurut penggunaan bahasa Yahudi, Anda tidak akan menemukan kesalahan pada diri saya."
Ini merupakan pembacaan sederhana terhadap Injil orang Kristen, dan Deedat tidak memberinya interpretasi menurut dirinya sendiri atau menurut beberapa makna khusus yang diketahui hanya oleh orang-orang tertentu (esoteris) terhadap kata-kata tersebut, tetapi ini adalah pembacaan yang bisa dilakukan oleh siapa saja yang mau memahaminya dengan CERMAT.
"Aku dan Bapa adalah satu." -Yohanes 10: (30)
------------
Ayat inilah yang menyesatkan orang dan banyak digunakan untuk menyesatkan asumsi, karena dikunyah mentah-mentah tanpa bahasan konteksnya.
Begini konteksnya:
Deedat pernah mengajak Pendeta Morris D.D dan istrinya untuk makan siang bersama di "Golden Peacock". Saat diskusi untuk menanyakan dimana makan siang tersebut, Deedat bertanya, "di mana?" Dan tanpa ragu Pendeta Morris menjawab dengan sebuah kutipan Injl, SAYA DAN AYAH SAYA ADALAH SATU" -- untuk mengisyaratkan bahwa Tuhan dan Yesus adalah satu dan merupakan diri yang sama. Pada ayat tersebut Yesus tidak mengklaim sebagai Tuhan. Ayat yang dikutip tersebut sudah sangat ia (Deedat) kenal, tapi yang dikutip tersebut, lepas dari konteks bila tak membacanya dari awal. Kemudian Deedat menanyakan kepada pendeta "Apa konteksnya?"
KONTEKSLAH YANG MEMPERJELAS MAKNA TEKS
Pendeta tersebut berhenti makan dan mulai menatap Deedat, "Mengapa? Apakah Anda tidak tahu konteksnya?"tanya Deedat - "Anda tahu kalau apa yang baru saja saya dengarkan adalah teksnya, tetapi bagaimana dengan konteksnya? teks yang menyertainya, sebelum dan sesudahnya?" Pendeta Morris adalah seseorang yang sehari-hari menggunakan bahasa Inggris (ia orang Kanada), seorang pelayan gereja di Presbyterian Church, seorang yang bergelar Doctor of Divinity, dan sepertinya pada saat itu Deedat sedang mengajarinya bahasa Inggris. Tapi Morris tentunya paham dengan apa yang dimaksud dengan "konteks". Tapi sebagaimana para compatriot yang lain, ternyata Morris memang belum mempelajari pada situasi apa Yesus mengutarakan kata-kata tersebut.
Selama lebih dari empat puluh tahun pergaulan Deedat dengan para pendeta yang mengajar di Johannesburg, Cape Town, dan berbagai kota lain di Afrika, kata-kata ini telah beratus-ratus atau bahkan ribuan kali dikatakan orang kepadanya, tapi tidak seorangpun Kristen berpendidikan yang berani mencoba menebak arti kata aslinya. Mereka selalu kembali untuk meraba-raba Bibel mereka. Pada saat itu Doktor Morris sedang tidak membawa Bibelnya. Biasanya ketika mereka mencoba membuka Bibelnya, Deedat mencoba menahannya sambil bertanya, "Tentunya anda tahu apa yang baru saja Anda kutip bukan?" "Tentunya anda sudah kenal dengan Bibel anda bukan?". Setelah membaca ini semoga akan ada beberapa orang Kristen "terlahir kembali" yang paham kekurang-pahaman mereka dengan arti kata terhadap konteks asli yang dimaksud dari ayat ini.
BAGAIMANA KONTEKSNYA?
Sepertinya pendeta Morris telah bertindak tidak adil karena setelah dia tidak mampu menjawab pertanyaan Deedat tentang konteks tersebut kemudian dia malah bertanya kepada Deedat (padahal dia seorang pendeta, sedangkan Deedat seorang muslim), pendeta Morris bertanya, "Apakah anda tahu bagaimana konteksnya?" "Tentu saja" jawab Deedat. "Lalu bagaimana?" lanjut pendeta Morris. Deedat melanjutkan, "Kata-kata yang telah anda kutip tersebut merupakan teks dari Yohanes bab 10 ayat 30. Untuk bisa menemukan konteksnya kita HARUS MULAI membaca dari ayat 23 dahulu, yang berbunyi: "Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Solomo" (Yoh 10:23).
Yohanes, atau siapapun yang menulis kisah ini, tidak mengungkapkan alasan mengapa Yesus berani menghadapi orang-orang yang berbuat maksiat di dalam Bait Suci itu. Dalam Bait Suci itu didapatinya pedagang=pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka, uang penukar-penukar dihamburkannya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan. Padahal kita tahu, orang Yahudi akan kehilangan kesempatan emas untuk bisa bersama dengan Yesus. Mungkin ia terdorong oleh rasa amarah sehingga dia berani melakukan semua itu pada awal pemerintahannya (Yohanes 2:15)
"Maka orang-orang Yahudi mengelilinginya dan berkata kepadanya, "Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias katakanlah terus terang kepada kami." (Yoh 10:24)
Mereka mengerumuni Yesus. Mengacungkan telunjuk mereka ke muka Yesus, menuduh dan memprovokasi dengan cara mengatakan bahwa dia tidak mengatakan segalanya dengan jelas, dan langsung pada inti permasalahan. Bahwa dia telah memberikan ambiguitas. Mereka mulai melakukan hal-hal gila untuk menyerangnya. Sebenarnya apa yang mereka tidak sukai dari Yesus adalah dalam hal cara pengajaran yang dilakukannya, umpatan, ungkapan yang digunakan oleh Yesus untuk menyalahkan mereka atas formalisme mereka, ceremonalisme, dan hukum yang mereka buat atas nama agama, namun mengabaikan spirit beragama. Tapi Yesus tidak bisa memprovokasi lebih jauh - jumlah mereka terlalu banyak dan mereka sangat ingin berkelahi. Kebijaksanaan adalah hal yang lebih baik daripada keberanian. Dalam sebuah spirit perdamaian untuk memperbaiki keadaan.
"Yesus menjawab mereka, "Aku telah mengatakannya kepadamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang kulakukan dalam nama Bapaku, itulah yang memberikan kesaksian tentang aku." (Yoh:25)
"Tetapi kamu tidak percaya karena kamu tidak termasuk domba-dombaku (Yahudi tetapi lain suku dengan Yesus/ Bunda Maria)." (Yoh:25)
Yesus membantah fitnah yang dilancarkan oleh para musuhnya yang menyatakan bahwa dia telah mengutarakan kata-kata ambigu dengan mengatakan bahwa dia adalah Al-Masih yang sudah lama mereka nantikan. Yesus berkata bahwa dia telah menyampaikan hal tersebut kepada mereka dengan cukup jelas, namun mereka tidak mau mendengar, tapi:
"Domba-dombaku akan mendengar apa kataku, dan saya mengenal mereka (domba-domba), dan mereka akan mengikutiku." (Yoh:27)
"Dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan MEREBUT MEREKA DARI TANGANKU." (Yoh:28)
"Bapaku, yang memberikan mereka kepadaku, lebih besar daripada siapa pun dan seorangpun tidak dapat MEREBUT MEREKA DARI TANGAN BAPA." (Yoh:29)
Bagaimana semua orang bisa menjadi begitu buta sehingga tidak pernah melihat BAGIAN AKHIR dari dua ayat terakhir tersebut. Tapi orang yang berkedip secara spiritual akan lebih tahan terhadap kecaman ketimbang orang yang mengalami cacat fisik. Dia memberi tahu orang-orang Yahudi dan membuat rekaman untuk anak-cucunya, kesatuan atau hubungan yang nyata antara Bapak dan Anak. Ayat yang paling krusial.
"Aku dan Bapa adalah Satu" (Yoh:30)
Satu dalam hal apa? Dalam hal kemahatahuan? Dalam hal Alam? Dalam hal Kemahakuasaan? Tidak! Bahwa ketika seorang yang beriman sudah menerima keyakinan, maka Rasul akan menyempurnakannya sehingga keyakinan tersebut bisa tetap menjadi keyakinan. Ini adalah tujuan dari "Bapak" DAN "anak" DAN "Dzat Suci" DAN keyakinan setiap lelaki DAN perempuan. Biarkan Yohannes sendiri yang akan menjelaskan kata-kata mistik Gnostic tak berguna yang telah dibuatnya sendiri.
Bahwa keduanya bisa jadi adalah SATU: bisa menjadi SEPERTI. Bapak berada dalam diriku dan aku berada dalam diri kalian, sehingga keduanya juga bisa jadi SATU dalam diri kita-kita. Saya dalam diri mereka, dan engkau berada dalam diriku, sehingga mereka menjadi sama dalam KESATUAN.
"Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia." (Yoh 17:18)
"dan Aku mensucikan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun disucikan dalam kebenaran." (Yoh 17:19)
"supaya mereka semua menjadi satu, sama SEPERTI Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka JUGA di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." (Yoh 17:21)
"Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu." (Yoh 17:22)
"Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku." (Yoh 17:23)
Jika Yesus adalah "SATU" dengan Tuhan, dan jika bahwa "KESATUAN" bisa menjadikannya sebagai Tuhan, maka Judas sang penghianat, dan Thomas yang peragu, dan Petrus sang penganut setan, ditambah sembilan orang lagi yang meninggalkan Yesus saat dia sangat membutuhkan (satu/banyak) Tuhan, karena KESATUAN yang sama pernah diklaim oleh mereka bahwa mereka menyertai Tuhan (seperti dalam Yohanes 10:30), sekarang diklaim sebagai SEMUA "yang meninggalkannya dan melarikan diri" (Markus 14:50) - Semua "yang lemah imannya" (Matius 8:26) - SEMUA "generasi yang tak yakin dan menentang" (Lukas 9:41).
Sampai di mana dan sampai kapankah pemfitnahan orang Kristen terhadap Yesus berakhir? Ungkapan "Aku dan Bapa adalah satu", bukan ungkapan yang salah, yang artinya TIDAK LEBIH DARI SEKEDAR ADANYA KESATUAN TUJUAN BERSAMA (YANG SAMA) DENGAN TUHAN. Tapi orang-orang Yahudi mencari masalah dan melakukan sesuatu yang tidak akan dilakukan oleh siapapun.
"Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus." (Yoh 10:31)
"Yesus berkata kepada mereka: "Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapakku yang telah kutunjukkan kepada kalian; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kalian melempariku?" (Yoh 10:32)
"Orang Yahudi menjawab: "Kami melemparimu bukan karena pekerjaan yang baik itu, tetapi karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah." (Yoh 10:33)
Dalam ayat 24 di atas orang-orang Yahudi menuduh secara salah bahwa Yesus berkata ambigu. Ketika tuduhan itunbisa disangkal, mereka kemudian menuduhnya telah berbuat kufur yaitu menyerupakan dirinya dengan Allah. Karena itu mereka menuduh bahwa Yesus telah mengklaim dirinya sebagai Tuhan - "Aku dan Bapakku adalah satu". Orang-orang Kristen sepakat dengan orang-orang Yahudi dalam hal ini, bahwa Yesus memang benar-benar mengatakan hal tersebut; tapi, berbeda, dalam pengertian. Orang Kristen berpendapat bahwa hal tersebut bukanlah kufur karena orang-orang Kristen mengatakan bahwa dia (Yesus) adalah Tuhan dan telah dibebaskan untuk mendapatkan Divinitasnya.
Orang-orang Kristen dan Yahudi sama-sama sepakat bahwa pernyataan tersebut adalah serius. Yang satu dengan alasan untuk mendapatkan "penebusan dosa", dan satunya dengan alasan untuk mendapatkan "penghapusan dosa". Di antara kedua hal tersebut, maka biarlah Yesus mati. Tapi Yesus menolak untuk bekerja sama dalam permainan kotor ini:
"Yesus berkata kepada mereka: "Tidakkah ada tertulis dalam kitab hukummu: Aku telah berkata, "Kamu adalah tuhan-tuhan?" (Yoh 10:34)
"Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah--sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan--, (Yoh 10:35)
"masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?" (Yoh 10:36)
Mengapa "Hukummu"?
Dia adalah seorang yang sedikit sarkastik seperti yang dinyatakan dalam ayat 34, tetapi dalam semua event, mengapa dia berkata: "Hukummu?"
Bukankah itu juga hukumnya? Bukankah dia berkata: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya." (Matius 5:17) "Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi." (Matius 5:18)
"Kamu adalah Allah-Allah"
"Kamu adalah Allah-Allah (gods)" Dia mengutipnya dari Mazmur 82 (ayat 6) - "Aku sendiri telah berfirman, "KAMU ADALAH ALLAH-ALLAH, dan kalian semua adalah anak-anak Allah Yang Maha Tinggi." (Mazmur 82:6)
Yesus melanjutkan, "Jika Dia (yakni Tuhan Yang Maha Kuasa) menyebut mereka Allah, kepada siapa firman itu disampaikan, - sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan.. (dengan kata lain - KALIAN TIDAK BOLEH MENENTANGKU!) -- Yesus tahu kitab Injilnya; dia berbicara dengan otoritas; dan dia mengungkapkan alasan kepada para musuhnya bahwa "Jika orang baik, orang suci, dan rasul-rasul Tuhan disebut dengan "ALLAH-ALLAH" (gods) dalam Kitab Suci kita, yang anda temukan tidak ada kesalahan di dalamnya - lantas mengapa kalian membuat pengecualian kepadaku? -- Padahal yang saya katakan terhadap diri saya adalah jauh lebih kecil dalam bahasa kami, yaitu "anak Allah" sedangkan yang lain disebut "ALLAH-ALLAH" oleh Allah itu sendiri. Bahkan jika aku (Yesus) menyebutku sebagai "allah" dalam bahasa kita, menurut penggunaan bahasa Yahudi, Anda tidak akan menemukan kesalahan pada diri saya."
Ini merupakan pembacaan sederhana terhadap Injil orang Kristen, dan Deedat tidak memberinya interpretasi menurut dirinya sendiri atau menurut beberapa makna khusus yang diketahui hanya oleh orang-orang tertentu (esoteris) terhadap kata-kata tersebut, tetapi ini adalah pembacaan yang bisa dilakukan oleh siapa saja yang mau memahaminya dengan CERMAT.
Langganan:
Komentar (Atom)

