Dalam bukunya "Kasus Besar yang Keliru, Ternyata Yesus Malaikat", pendeta Frans Donald menulis bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Bahkan ia mengajukan pembuktian berdasarkan catatan Alkitab itu sendiri: Dalam Alkitab tertulis bahwa Yesus lahir di Bethlehem, Yudea. Pada kenyataannya kita tahu bahwa Yudea memiliki dua musim, yaitu musim panas dan musim dingin. Dan pada bulan Desember di Yudea cuaca sangat dingin dan berhujan lebat.
Dalam Injil Lukas 2: 8-11, pada waktu Yesus dilahirkan di Bethlehem Yudea, sebelum malaikat datang dan mengabarkan berita kelahiran Yesus, para gembala kala itu keluar membawa ternak mereka ke padang terbuka selama berhari-hari. Cuaca bulan Desember di Yudea sangat dingin dan berhujan lebat, apakah mungkin mereka menggembalakan ternaknya di padang terbuka pada musim dingin yang berhujan lebat seperti itu? Jelas tak mungkin, bukan?
Keterangan dari Injil Lukas tersebut menggambarkan situasi musim panas atau awal musim gugur, saat cuaca cerah dan juga gerah pada waktu malam, sehingga hewan-hewan perlu dilepas ke luar kandang. Pemahaman berdasarkan Injil Lukas ini setidaknya menegaskan bahwa tidak mungkin Yesus lahir di bulan Desember.
Sensus Penduduk
Yusuf dan Maria, yang dalam gereja Katolik dikenal sebagai Santo Yosep dan Bunda Maria, orang tua Yesus, mereka datang ke Bethlehem Yudea untuk mengikuti sensus Pemerintah Romawi (Lukas 2: 1-5). Kala itu semua orang mesti pulang kampung ke kota asalnya masing-masing untuk mendaftarkan diri. Sekali lagi, jelas tidak mungkin sensus semacam itu dilaksanakan di suatu musim dingin. Pada bulan Desember di Bethlehem Yudea suhu udara sangat rendah, sangat dingin menusuk tulang, cuaca membeku dan kondisi jalan-jalan tak bisa dilewati kereta kuda. Melakukan sensus dalam kondisi cuaca seperti itu hanya membuang-buang waktu dan tak mungkin. Peristiwa sensus dan kelahiran Yesus itu jelas tidak mungkin terjadi di bulan Desember.
Kelahiran Yohanes Pembaptis
Kita bisa memperkirakan hari kelahiran Yesus dengan menghubungkannya dengan waktu kehamilan Elizabeth, ibu Yohanes Pembaptis. Ketika Yesus mulai dikandung oleh Perawan Maria, kehamilan Elizabeth masuk hitungan enam bulan (Lukas 1: 24-27). Maka untuk mengetahui waktu kelahiran Yesus, kita perlu mengetahui kapan Yohanes lahir.Ayah Yohanes, yaitu Zakaria adalah imam yang melayani di Yerusalem bersama-sama rombongan Abia (Lukas 1: 5) Perhitungan sejarah menunjukkan bahwa pelayanan ini berlangsung sekitar 13-19 Juni tahun itu (The Companion Bible, 1974). Saat itulah Zakaria diberitahu oleh malaikat bahwa istrinya akan mengandung (Lukas 1: 8-13, 23-24). Jika kehamilan itu dimulai pada akhir Juni, dengan hitungan masa kandungan sembilan bulan, kemungkinan Yohanes Pembaptis lahir sekitar bulan Maret. Dengan menambahkan 5-6 bulan (selisih waktu kehamilan Maria dan Elizabeth), maka kemungkinannya Yesus lahir sekitar bulan Agustus atau September, masa musim gugur di Yudea.
Kapan tepatnya Yesus lahir? Alkitab dan sejarah memang tidak menjelaskan dengan pasti tentang tanggal kelahiran Yesus. Tampaknya hari kelahiran Yesus dianggap oleh penulis Injil sebagai suatu hal yang tidak penting diketahui atau dirayakan, sebagaimana orang Yahudi sampai masa itu tidak punya kebiasaan merayakan hari lahir. Tidak tercatatnya hari lahir Yesus juga punya dampak positif menghindarkan kemungkinan terjadinya kultus; meskipun ternyata akhirnya didistorsi juga oleh tradisi Barat, yang memboncengkan kepentingannya, sehingga menciptakan peng-kultus-an juga akhirnya.
Dari Mana Asalnya tanggal 25 Desember?
Dari berbagai sumber terpercaya, bisa kita temukan bahwa sebenarnya tanggal 25 Desember berasal dari tradisi perayaan agama pagan "Kafir". The World Book Encyclopedia mencatat: Orang-orang Roma merayakan hari lahir Dewa Matahari, 25 Desember.
Romo Eko Budi Susilo, Pr, Pastor Paroki Aloysius Gonzaga pernah mengakui: "Tanggal 25 Desember sebenarnya dirayakan oleh bangsa Romawi sebagai hari Dewa Matahari. Tetapi kemudian gereja (Katolik) membaptis tanggal itu untuk peringatan kepada Yesus." Kenapa? karena pimpinana gereja Katolik Roma tersebut adalah keturunan bangsa Romawi mantan penganut Pagan yang masih belum rela tradisi nenek moyangnya musnah, karena itu ia mengadopsi tanggal kelahiran Dewa mereka sebagai tanggal kelahiran Yesus.
Sehingga sesungguhnya pimpinan gereja itu telah mengecoh seluruh umat Kristen sedunia untuk memperingati Dewa-nya tanpa umat menyadarinya! Banyak gereja telah sepakat bahwa sejarah ditetapkannya hari Natal pada 25 Desember serupa dengan sejarah ditetapkannya hari Minggu sebagai hari ibadah rutin umat Kristen. Padahal dalam Alkitab dengan jelas Tuhan memerintahkan umatNya untuk memuliakan dan berdoa pada hari Sabat/ Sabtu (Keluaran 20: 8-11 dan Ibrani 4: 1-11).
Tapi tampaknya dengan berkompromi mewarisi ajaran Pagan 'kafir', gereja Katolik Roma mengganti Sabat/Sabtu dengan Minggu (hari Pertama). Minggu berasal dari sebutan Sun-Day (Hari Matahari), dan hari ini dikhususkan orang-orang Roma untuk Dewa Matahari. Demikian juga Natal, yang mulai dirayakan pada abad ke-4 sampai sekarang, berasal dari tradisi Pagan Eropa yang merupakan hari kelahiran Dewa Matahari, dewa 'kafir' Yunani dan Romawi.
Sesungguhnya banyak orang yang sudah lama mengetahui dan mengakui bahwa Natal adalah bukan berasal dari Alkitab, melainkan dari tradisi kekafiran. Oleh karena itu, konon di abad ke-17 (masa Renaissance) di beberapa negara koloni Amerika dan Inggris, perayaan Natal sempat dilarang! Bahkan siapa saja yang merayakan Natal harus membayar denda pelanggaran hukum. Tapi beberapa tahun kemudian, tradisi kafir itu kembali kambuh merajalela hingga kini, bahkan menyebar keseluruh dunia sebagai tradisi keagamaan yang bahkan dilestarikan dengan alasan sebagai aset budaya dan pariwisata; sehingga kemasannya pun makin berkembang dengan berbagai pernak-pernik (pohon cemara, sinterklas, dsb) dan dongeng (Piet Hitam, kereta kuda terbang, dsb) yang bahkan di negeri asalnya [negeri tempat Yesus dilahirkan] tak pernah ada! Bagaimana pun Natal bersumber dari ajaran kafir dan tidak Alkitabiah, maka kini di berbagai negara banyak sekali orang-orang Kristen yang taat kepada Alkitab lebih memilih untuk tidak lagi merayakan hari kelahiran Yesus yang palsu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar