"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." -Yohanes 3: (16)
"Aku dan Bapa adalah satu." -Yohanes 10: (30)
------------
Ayat inilah yang menyesatkan orang dan banyak digunakan untuk menyesatkan asumsi, karena dikunyah mentah-mentah tanpa bahasan konteksnya.
Begini konteksnya:
Deedat pernah mengajak Pendeta Morris D.D dan istrinya untuk makan siang bersama di "Golden Peacock". Saat diskusi untuk menanyakan dimana makan siang tersebut, Deedat bertanya, "di mana?" Dan tanpa ragu Pendeta Morris menjawab dengan sebuah kutipan Injl, SAYA DAN AYAH SAYA ADALAH SATU" -- untuk mengisyaratkan bahwa Tuhan dan Yesus adalah satu dan merupakan diri yang sama. Pada ayat tersebut Yesus tidak mengklaim sebagai Tuhan. Ayat yang dikutip tersebut sudah sangat ia (Deedat) kenal, tapi yang dikutip tersebut, lepas dari konteks bila tak membacanya dari awal. Kemudian Deedat menanyakan kepada pendeta "Apa konteksnya?"
KONTEKSLAH YANG MEMPERJELAS MAKNA TEKS
Pendeta tersebut berhenti makan dan mulai menatap Deedat, "Mengapa? Apakah Anda tidak tahu konteksnya?"tanya Deedat - "Anda tahu kalau apa yang baru saja saya dengarkan adalah teksnya, tetapi bagaimana dengan konteksnya? teks yang menyertainya, sebelum dan sesudahnya?" Pendeta Morris adalah seseorang yang sehari-hari menggunakan bahasa Inggris (ia orang Kanada), seorang pelayan gereja di Presbyterian Church, seorang yang bergelar Doctor of Divinity, dan sepertinya pada saat itu Deedat sedang mengajarinya bahasa Inggris. Tapi Morris tentunya paham dengan apa yang dimaksud dengan "konteks". Tapi sebagaimana para compatriot yang lain, ternyata Morris memang belum mempelajari pada situasi apa Yesus mengutarakan kata-kata tersebut.
Selama lebih dari empat puluh tahun pergaulan Deedat dengan para pendeta yang mengajar di Johannesburg, Cape Town, dan berbagai kota lain di Afrika, kata-kata ini telah beratus-ratus atau bahkan ribuan kali dikatakan orang kepadanya, tapi tidak seorangpun Kristen berpendidikan yang berani mencoba menebak arti kata aslinya. Mereka selalu kembali untuk meraba-raba Bibel mereka. Pada saat itu Doktor Morris sedang tidak membawa Bibelnya. Biasanya ketika mereka mencoba membuka Bibelnya, Deedat mencoba menahannya sambil bertanya, "Tentunya anda tahu apa yang baru saja Anda kutip bukan?" "Tentunya anda sudah kenal dengan Bibel anda bukan?". Setelah membaca ini semoga akan ada beberapa orang Kristen "terlahir kembali" yang paham kekurang-pahaman mereka dengan arti kata terhadap konteks asli yang dimaksud dari ayat ini.
BAGAIMANA KONTEKSNYA?
Sepertinya pendeta Morris telah bertindak tidak adil karena setelah dia tidak mampu menjawab pertanyaan Deedat tentang konteks tersebut kemudian dia malah bertanya kepada Deedat (padahal dia seorang pendeta, sedangkan Deedat seorang muslim), pendeta Morris bertanya, "Apakah anda tahu bagaimana konteksnya?" "Tentu saja" jawab Deedat. "Lalu bagaimana?" lanjut pendeta Morris. Deedat melanjutkan, "Kata-kata yang telah anda kutip tersebut merupakan teks dari Yohanes bab 10 ayat 30. Untuk bisa menemukan konteksnya kita HARUS MULAI membaca dari ayat 23 dahulu, yang berbunyi: "Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Solomo" (Yoh 10:23).
Yohanes, atau siapapun yang menulis kisah ini, tidak mengungkapkan alasan mengapa Yesus berani menghadapi orang-orang yang berbuat maksiat di dalam Bait Suci itu. Dalam Bait Suci itu didapatinya pedagang=pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka, uang penukar-penukar dihamburkannya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan. Padahal kita tahu, orang Yahudi akan kehilangan kesempatan emas untuk bisa bersama dengan Yesus. Mungkin ia terdorong oleh rasa amarah sehingga dia berani melakukan semua itu pada awal pemerintahannya (Yohanes 2:15)
"Maka orang-orang Yahudi mengelilinginya dan berkata kepadanya, "Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias katakanlah terus terang kepada kami." (Yoh 10:24)
Mereka mengerumuni Yesus. Mengacungkan telunjuk mereka ke muka Yesus, menuduh dan memprovokasi dengan cara mengatakan bahwa dia tidak mengatakan segalanya dengan jelas, dan langsung pada inti permasalahan. Bahwa dia telah memberikan ambiguitas. Mereka mulai melakukan hal-hal gila untuk menyerangnya. Sebenarnya apa yang mereka tidak sukai dari Yesus adalah dalam hal cara pengajaran yang dilakukannya, umpatan, ungkapan yang digunakan oleh Yesus untuk menyalahkan mereka atas formalisme mereka, ceremonalisme, dan hukum yang mereka buat atas nama agama, namun mengabaikan spirit beragama. Tapi Yesus tidak bisa memprovokasi lebih jauh - jumlah mereka terlalu banyak dan mereka sangat ingin berkelahi. Kebijaksanaan adalah hal yang lebih baik daripada keberanian. Dalam sebuah spirit perdamaian untuk memperbaiki keadaan.
"Yesus menjawab mereka, "Aku telah mengatakannya kepadamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang kulakukan dalam nama Bapaku, itulah yang memberikan kesaksian tentang aku." (Yoh:25)
"Tetapi kamu tidak percaya karena kamu tidak termasuk domba-dombaku (Yahudi tetapi lain suku dengan Yesus/ Bunda Maria)." (Yoh:25)
Yesus membantah fitnah yang dilancarkan oleh para musuhnya yang menyatakan bahwa dia telah mengutarakan kata-kata ambigu dengan mengatakan bahwa dia adalah Al-Masih yang sudah lama mereka nantikan. Yesus berkata bahwa dia telah menyampaikan hal tersebut kepada mereka dengan cukup jelas, namun mereka tidak mau mendengar, tapi:
"Domba-dombaku akan mendengar apa kataku, dan saya mengenal mereka (domba-domba), dan mereka akan mengikutiku." (Yoh:27)
"Dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan MEREBUT MEREKA DARI TANGANKU." (Yoh:28)
"Bapaku, yang memberikan mereka kepadaku, lebih besar daripada siapa pun dan seorangpun tidak dapat MEREBUT MEREKA DARI TANGAN BAPA." (Yoh:29)
Bagaimana semua orang bisa menjadi begitu buta sehingga tidak pernah melihat BAGIAN AKHIR dari dua ayat terakhir tersebut. Tapi orang yang berkedip secara spiritual akan lebih tahan terhadap kecaman ketimbang orang yang mengalami cacat fisik. Dia memberi tahu orang-orang Yahudi dan membuat rekaman untuk anak-cucunya, kesatuan atau hubungan yang nyata antara Bapak dan Anak. Ayat yang paling krusial.
"Aku dan Bapa adalah Satu" (Yoh:30)
Satu dalam hal apa? Dalam hal kemahatahuan? Dalam hal Alam? Dalam hal Kemahakuasaan? Tidak! Bahwa ketika seorang yang beriman sudah menerima keyakinan, maka Rasul akan menyempurnakannya sehingga keyakinan tersebut bisa tetap menjadi keyakinan. Ini adalah tujuan dari "Bapak" DAN "anak" DAN "Dzat Suci" DAN keyakinan setiap lelaki DAN perempuan. Biarkan Yohannes sendiri yang akan menjelaskan kata-kata mistik Gnostic tak berguna yang telah dibuatnya sendiri.
Bahwa keduanya bisa jadi adalah SATU: bisa menjadi SEPERTI. Bapak berada dalam diriku dan aku berada dalam diri kalian, sehingga keduanya juga bisa jadi SATU dalam diri kita-kita. Saya dalam diri mereka, dan engkau berada dalam diriku, sehingga mereka menjadi sama dalam KESATUAN.
"Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia." (Yoh 17:18)
"dan Aku mensucikan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun disucikan dalam kebenaran." (Yoh 17:19)
"supaya mereka semua menjadi satu, sama SEPERTI Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka JUGA di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." (Yoh 17:21)
"Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu." (Yoh 17:22)
"Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku." (Yoh 17:23)
Jika Yesus adalah "SATU" dengan Tuhan, dan jika bahwa "KESATUAN" bisa menjadikannya sebagai Tuhan, maka Judas sang penghianat, dan Thomas yang peragu, dan Petrus sang penganut setan, ditambah sembilan orang lagi yang meninggalkan Yesus saat dia sangat membutuhkan (satu/banyak) Tuhan, karena KESATUAN yang sama pernah diklaim oleh mereka bahwa mereka menyertai Tuhan (seperti dalam Yohanes 10:30), sekarang diklaim sebagai SEMUA "yang meninggalkannya dan melarikan diri" (Markus 14:50) - Semua "yang lemah imannya" (Matius 8:26) - SEMUA "generasi yang tak yakin dan menentang" (Lukas 9:41).
Sampai di mana dan sampai kapankah pemfitnahan orang Kristen terhadap Yesus berakhir? Ungkapan "Aku dan Bapa adalah satu", bukan ungkapan yang salah, yang artinya TIDAK LEBIH DARI SEKEDAR ADANYA KESATUAN TUJUAN BERSAMA (YANG SAMA) DENGAN TUHAN. Tapi orang-orang Yahudi mencari masalah dan melakukan sesuatu yang tidak akan dilakukan oleh siapapun.
"Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus." (Yoh 10:31)
"Yesus berkata kepada mereka: "Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapakku yang telah kutunjukkan kepada kalian; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kalian melempariku?" (Yoh 10:32)
"Orang Yahudi menjawab: "Kami melemparimu bukan karena pekerjaan yang baik itu, tetapi karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah." (Yoh 10:33)
Dalam ayat 24 di atas orang-orang Yahudi menuduh secara salah bahwa Yesus berkata ambigu. Ketika tuduhan itunbisa disangkal, mereka kemudian menuduhnya telah berbuat kufur yaitu menyerupakan dirinya dengan Allah. Karena itu mereka menuduh bahwa Yesus telah mengklaim dirinya sebagai Tuhan - "Aku dan Bapakku adalah satu". Orang-orang Kristen sepakat dengan orang-orang Yahudi dalam hal ini, bahwa Yesus memang benar-benar mengatakan hal tersebut; tapi, berbeda, dalam pengertian. Orang Kristen berpendapat bahwa hal tersebut bukanlah kufur karena orang-orang Kristen mengatakan bahwa dia (Yesus) adalah Tuhan dan telah dibebaskan untuk mendapatkan Divinitasnya.
Orang-orang Kristen dan Yahudi sama-sama sepakat bahwa pernyataan tersebut adalah serius. Yang satu dengan alasan untuk mendapatkan "penebusan dosa", dan satunya dengan alasan untuk mendapatkan "penghapusan dosa". Di antara kedua hal tersebut, maka biarlah Yesus mati. Tapi Yesus menolak untuk bekerja sama dalam permainan kotor ini:
"Yesus berkata kepada mereka: "Tidakkah ada tertulis dalam kitab hukummu: Aku telah berkata, "Kamu adalah tuhan-tuhan?" (Yoh 10:34)
"Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah--sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan--, (Yoh 10:35)
"masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?" (Yoh 10:36)
Mengapa "Hukummu"?
Dia adalah seorang yang sedikit sarkastik seperti yang dinyatakan dalam ayat 34, tetapi dalam semua event, mengapa dia berkata: "Hukummu?"
Bukankah itu juga hukumnya? Bukankah dia berkata: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya." (Matius 5:17) "Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi." (Matius 5:18)
"Kamu adalah Allah-Allah"
"Kamu adalah Allah-Allah (gods)" Dia mengutipnya dari Mazmur 82 (ayat 6) - "Aku sendiri telah berfirman, "KAMU ADALAH ALLAH-ALLAH, dan kalian semua adalah anak-anak Allah Yang Maha Tinggi." (Mazmur 82:6)
Yesus melanjutkan, "Jika Dia (yakni Tuhan Yang Maha Kuasa) menyebut mereka Allah, kepada siapa firman itu disampaikan, - sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan.. (dengan kata lain - KALIAN TIDAK BOLEH MENENTANGKU!) -- Yesus tahu kitab Injilnya; dia berbicara dengan otoritas; dan dia mengungkapkan alasan kepada para musuhnya bahwa "Jika orang baik, orang suci, dan rasul-rasul Tuhan disebut dengan "ALLAH-ALLAH" (gods) dalam Kitab Suci kita, yang anda temukan tidak ada kesalahan di dalamnya - lantas mengapa kalian membuat pengecualian kepadaku? -- Padahal yang saya katakan terhadap diri saya adalah jauh lebih kecil dalam bahasa kami, yaitu "anak Allah" sedangkan yang lain disebut "ALLAH-ALLAH" oleh Allah itu sendiri. Bahkan jika aku (Yesus) menyebutku sebagai "allah" dalam bahasa kita, menurut penggunaan bahasa Yahudi, Anda tidak akan menemukan kesalahan pada diri saya."
Ini merupakan pembacaan sederhana terhadap Injil orang Kristen, dan Deedat tidak memberinya interpretasi menurut dirinya sendiri atau menurut beberapa makna khusus yang diketahui hanya oleh orang-orang tertentu (esoteris) terhadap kata-kata tersebut, tetapi ini adalah pembacaan yang bisa dilakukan oleh siapa saja yang mau memahaminya dengan CERMAT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar